Skip to main content
ASTRABRIGHT

follow us

Choose Your Categories

Semarak #G4ndjelRel di Pringsewu Semarang bersama Agus Mulyadi


Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh

Tak terasa hampir seminggu berlalu, namun kemeriahan syukuran pertambahan usia Gandjel Rel yang keempat masih terasa hingga hari ini. Btw, di whatsapp group Gandjel Rel, Mbak Uniek sempat kilas balik perjalanan komunitas blogger perempuan di Semarang nan kece ini. Baru sadar selama empat kali ultah Gandjel Rel, alhamdulillah selalu bisa hadir. Dan tanpa direncanakan kok bisa pas ultah kesatu dan keempat aku mengenakan kerudung yang sama, hihi. Ini antara kasihan atau setia, kasihan karena kerudungnya itu-itu aja, or setia karena apapun gamisnya kerudungnya tetap yang itu-itu aja, hahaha.

Dan saat menengok foto ultah Gandjel Rel ketiga, aku ngikik juga… teringat betapa Sabtu, 23 Februari 2019 yang lalu, saat hendak meluncur ke Pringsewu Semarang untuk menghadiri ultah Gandjel Rel keempat, aku hampir saja pakai gamis yang sama. Soalnya dresscodenya bunga-bunga, sementara di lemari, gamis bunga-bunga yang tersisa hanya gamis yang pernah kukenakan saat ultah Gandjel Rel ketiga. Tapi urung kulakukan, lalu akhirnya pilih gamis yang sudah kusiapkan sebelumnya, meski nggak bunga-bunga. Sampai di lokasi ditanya sama mbak Dian Nafi, “la bunga-bungane sebelah endi Mar?” Aku iseng menunjuk bros bunga yang kusematkan di kerudung, hehehe. Maksa banget ya.




 Baca juga: Gegap Gempita Ultah Pertama Gandjel Rel

Kalau membicarakan semaraknya acara #G4ndjelRel tak akan pernah ada habisnya. Mbak-mbak blogger cantik dan inspiratif kalau sudah berkumpul mah.. masya Allah… sungguh-sungguh menyenangkan. Selalu saja ada cerita dan kehebohan-kehebohan tersendiri. Apalagi dibawakan oleh MC kondang yang aji-aji katanya bisa membius semua orang yang hadir, siapa lagi kalau bukan mbak Hartari nan kocak.

Jujur, saat itu aku datang terlambat, hiks… kebiasaan buruk, njuk ingat video instagram ‘Abu Gosok’nya Mbak Untari. “Sebrapa greget lo kalau Gandjel Rel ada acara? Acara mulai jam 9, aku baru mandi jam 9.” Begitu kata si Abu Gosok, hehe. Eh, tapi kemarin aku jam 9 udah mandi yooo, tapi baru otewe.. maafkeun. Akhirnya aku ketinggalan sesi sambutan dari mbak Rahmi dan pemberian hadiah untuk peserta yang paling awal datang. Bisa nebak siapa yang paling gasik ke lokasi? Siapa lagi kalau bukan mbak Dian Nafi. Juaaraaak lah kalau soal kedisiplinan si mbak penulis paling produktif ini!

Oya, tahu kan kalau sebelum acara puncak #G4ndjelRel ada acara Road to 4 tahun Gandjel Rel? Nah akhirnya terpilihlah postingan-postingan terbaik untuk tiap pekannya, ini nih blogger-blogger kece terpilih;


Pemenang lomba pekan ke-1, tema wisata Semarang diraih oleh mbak Winda Oetomo
Pemenang lomba pekan ke-2, tema fiksi zero waste disabet dik Lulu Khodijah
Pemenang lomba pekan ke-3, tema perlindungan anak diberikan pada mbak Farida Pane yang tulisannya kece beud.
Pemenang lomba pekan ke-4, tema ngeblog dan harapan untuk GR, diraih oleh mbak Hidayah Sulistyowati yang kalem tapi menghanyutkan.
Pemenang video ucapan ultah di instagram, siapa lagi kalau bukan Mbak Abu Gosok, temannya mbak Untari, hehe.

Yang bikin terharu, aku juga dikasih satu tas hadiah yang isinya wow bangeeet oleh mbak-mbak founder, karena aku memberanikan diri jadi PJ event Road to 4 Tahun Gandjel Rel. Duh antara senang sekaligus sedih, soalnya belum maksimal menjalankan peran jadi PJ. Semoga next event, kalau jadi PJ bisa bener-bener bantuin mbak-mbak founder dengan sebaik-baiknya. Anyway, thanks buat hadiahnya ya mbak-mbak Founder… banyaaaak bangeeet dan pastinya bermanfaat!

Selain pemenang lomba pekanan Road to 4 Tahun Gandjel Rel, mbak Hartari sebagai MC juga mengumumkan pemenang live tweet yang disabet mbak Muna Sungkar dan mbak Mechta Deera alias mbak Tanti yang meraih hadiah lewat instastory. Tentu saja keseruan acara #G4ndjelRel tidak usai di sini, masih banyak hadiah bertaburan yang diberikan lewat beragam kuis yang dilempar oleh mbak Hartari. Aku juga kebagian hadiah lagi lo karena berhasil menjawab pertanyaan mbak Hartari, “apakah nama blog Agus Mulyadi?” Alhamdulillah.

foto ma Gus Mul, ben ketularan ndagel, hehe
Eh eh eh, ada Agus Mulyadi di acara #G4ndjelRel? Ada dooong, spesial banget buat menyemarakkan pertambahan usia Gandjel Rel tahun ini, mbak-mbak founder mengundang Agus Mulyadi yang merupakan salah satu redaktur di mojok.co untuk berbagi ilmu penulisan kreatif ala doi. Mau tahu tipsnya apa aja? Cuzz lanjutin baca, pals!

Menulis Kreatif ala Gus Mul

Siapa sih yang nggak kenal Gus Mul, redaktur mojok.co yang tulisan-tulisannya sering bikin senyum, meski kadang juga bikin anyel wkwk. Gus di sini bukan karena doi seorang habib ya, pals.. tapi karena singkatan dari namanya aGUS MULyadi, hahahaa. Jujur, aku bukan penggemar berat tulisan-tulisan doi sih, tapi aku kepo dengan caranya menulis yang unik. Bagaimana dia bisa menulis dengan sudut pandang yang seringkali nggak terpikirkan oleh orang lain dan bikin pembacanya manggut-manggut, lalu diam-diam bergumam, “iya juga yaa…”

Makanya waktu Gus Mul dengan gaya kocak nya yang tengil menyampaikan tips menulis kreatif, segera kusiapkan pena dan kertas untuk mencatat semua hal penting tersebut. Kapan lagi bisa belajar dari penulis yang ngaku suka sedih karena semua yang dia tulis dianggap humor, padahal doi juga pengen sesekali curcol serius, wkwkwk.


Gus Mul memberikan tajuk materinya dengan frasa yang manis; Menulis, Sekitarmu Sebisamu. Dari judulnya, Gus Mul seakan ingin memberi isyarat.. menulis itu tidak butuh hal yang aneh-aneh kok, mulai saja dari hal-hal yang bisa kita tangkap di sekitar kita, dan mulailah menulis sebisa kita. Kalau menunggu sampai ahli baru mulai nulis, nggak akan pernah kelar tulisan itu kan? 


Menulis adalah kebiasaan, semakin sering kita menulis, semakin meningkat kemampuan tersebut. Gus Mul mengajak kami untuk menengok postingan-postingan lama di sosial media, dan iya sih… semua orang pernah alay pada zamannya, hahaha. Coba deh sekarang kalian tengok status facebook 10 tahun yang lalu, seperti apa bentuknya? Ngakak pasti kan, pals? Apa cuma aku yang ngakak baca status-statusku zaman segitu, hahaha.

Gus Mul nggak pernah merasa punya tips menulis kreatif, namun menurutnya ada lima hal yang harus dimiliki oleh sesiapa saja yang ingin belajar menulis.

Pertama, ide tulisan.


Kece banget lo cara Agus Mulyadi menggali ide. Doi cerita kalau ke mana pun ia pergi, kamera dan ponsel adalah dua hal yang nggak boleh ketinggalan. Dua benda ini ia gunakan untuk menangkap hal-hal menarik di sekitar or sepanjang perjalanan yang ia lalui. Ia juga merekam pengalaman dengan dua benda ini. Semakin banyak fotoyang kita miliki, semakin banyak ide yang bisa kita kembangkan. Kenapa foto? Karena foto bisa menggambarkan secara visual, beda kalau mencatat ide lewat tulisan, dengan foto kita bisa lihat lagi dan mengeksplor lebih dalam di waktu yang lain lalu menuliskan hal-hal terkait apa yang kita tangkap dari foto-foto tersebut.

Foto-foto yang diambil Gus Mul pun sangat unik, seringkali berawal dari kegelisahan akan suatu hal yang kemudian melahirkan empati dan awareness of something. Dari sinilah tulisan-tulisan bernasnya dimulai. Mau coba cara menggali ide ala doi?

 

Kedua, memilih diksi.

Gus Mul bersabda;
 perbedaan penulis bagus dan tidak terletak pada pemilihan diksi.

Dilanjutkan olehnya, penulis biasa ketika mengisahkan soal LUPA hanya akan ditulis LUPA apa adanya, namun seorang penulis bagus akan bisa merangkainya menjadi ‘jika saja ingatanku tidak berkhianat.’ Etdaaaah, mantap nian!

Ketiga, milikilah kekhasan.

Menjadi unik itu penting, maka seorang penulis harus memiliki ciri khasnya sendiri. Misal deh kita baca tulisan Gus Mul, tanpa perlu lihat siapa yang nulis, udah bisa nebak ‘pasti coretannya Gus Mul nih.’ Hmm, kalau aku apa ya yang khas? Kayane khas tulisan panjang kaya gerbong kereta… hahahha. Kalau nggak panjang kurang puas, maaf yaaa.


Keempat, sudut pandang.

Ketika melihat sebuah masalah atau ide, penulis kreatif sebaiknya bisa memilih sudut pandang yang berbeda, lain daripada yang lain, out of the box bin anti mainstream. Saat itu Gus Mul memberikan contoh, ia pernah menulis sebuah artikel tentang pemilihan gubernur, tapi ia menulis bukan dari sudut pandang politik, namun sudut pandang penyanyi yang dipakai sebagai rekanan kampanye. Emang Gus Mul ini luarrrr biasa kok kalau suruh milih sudut pandang penulisan, jian pintereee poool!

Kelima, kutipan.

Gus Mul mengajak para peserta yang hadir untuk mengingat-ingat kalimat terkenal dari beberapa penulis, misal...
Daun yang jatuh tak pernah membenci angin. Dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan. Mengikhlaskan semuanya.

 Hayooo siapa yang tahu quote punya siapa ini?

Nah, sebaiknya sebagai seorang penulis kita juga membuat kutipan semacam itu. Sebuah quote yang akan membuat pembaca dengan lebih mudah mengingat tulisan kita. Quote yang bisa jadi sebuah ringkasan dari tulisan panjang yang kita susun. Jadi pas bikin caption untuk instagram kita nggak perlu bingung comot quote orang lain kalau kita punya quote sendiri kan? Hehehe.

Quote yang dibuat pun nggak harus melulu romantis dan puitis ya, boleh lo bikin quote-quote ndagel ala Gus Mul. Sesuaikan saja dengan karakter diri, pals.

Lima tips menulis kreatif ala Gus Mul di atas benar-benar memberikan energi baru padaku. Pulang ke rumah rasanya langsung ingin segera memuntahkan ribuan pecahan kata di kepala. Udah keren belum diksinya? Hahaha.

Gus Mul mendapat kehormatan mendapat tumpeng pertama dari mak-mak founder
Setelah dijamu dengan materi ndagel tapi ndaging ala Gus Mul, mbak Hartari membuka kesempatan tanya jawab. Mbak Noorma dan Mas Nuno pun segera mengangkat tangan untuk bertanya pada narasumber yang memiliki nama tenar untuk sosmednya Agus_Magelangan.

Mbak Noorma menanyakan tentang manajemen haters. Gus Mul menjawab dengan blak-blakan kalau sebenarnya dirinya pun punya haters, cuma karena kebanyakan tulisannya mengandung humor, jadi mungkin hatersnya nggak sebanyak penulis yang tulisannya cenderung serius. Menurutnya, kalau memang nggak mau banyak haters, mungkin banyak-banyak ngebanyol aja, hahaha.

Saat itu pun Gus Mul sempat curhat colongan, karena ada kalanya ia juga pengen dianggap serius atau menyampaikan hal-hal yang mengharukan, namun ternyata masyarakat Indonesia menanti Gus Mul yang selalu melucu. Buatnya terkadang hal ini menjadi beban. Ia pun kemudian bertanya, "jangan-jangan saya diundang ke acara ini juga karena dianggap lucu ya?" Hahahha.


Dilanjut dengan mas Nuno yang bertanya tips agar penulis berani mengangkat hal sederhana tanpa takut berpikiran bebas. Masih dengan gaya santainya, Agus Mulyadi menyampaikan;
Kekhawatiran itu mematikan kreativitas. Jangan pernah berhenti hanya karena asumsi.

Well, bener sih yaa.. kita nggak bisa memaksakan orang lain untuk selalu setuju dengan apa yang kita pikirkan, pals. Jadi ya kalau memang punya ide, keluarkan… kalau diempet nanti jadi jerawat lo! Tapi kalau aku sih, biasanya sebelum memuntahkan ide yang dirasa agak ‘liar’ or berbeda, aku tabayyun dulu gitu. Terutama dari sudut pandang agama sih, jujur eike takut kalau ternyata pemikiranku bertentangan sama agama gitu, hehe. Jadi lebih aman kalau kroscek-kroscek dulu. Kalau ternyata ada dalil yang menguatkan or masuknya khilafiyah, ya hayuk aja… tapi kalau ranahnya udah aqidah, mungkin akunya yang kudu instropeksi, wkwk.

Nongkrong Asyik di Pringsewu

Materi penulisan kreatif ala Agus Mulyadi memang menjadikan acara #G4ndjelRel semakin semarak, namun nggak bisa dipungkiri lokasi acara yang dipilih mak-mak founder untuk menyelenggarakan acara kali ini memang sangat mendukung.

Aku nggak tahu ya, setiap kali ke Pringsewu Semarang nggak pernah tuh merasa bosan. Bukan hanya soal makanannya yang emang endesss dan kalau kalap bisa habis berpiring-piring, tapi karena tempatnya itu seakan punya nuansa magis yang susah diungkapkan dengan kata-kata.

sajian Pringsewu Semarang untuk #G4ndjelRel
Menjejakkan kaki ke Pringsewu selalu terbawa dengan nuansa kuno tapi cantik yang ada di dalamnya. Dengan sudut-sudut vintage yang menarik, ditambah foto-foto di dinding yang semakin menguatkan kisah-kisah di masa lalu, memaksaku untuk masuk ke zaman Oey Tiong Ham masih menjadi salah satu orang terkaya di Asia. Dan selalu saja ada hal menarik untuk digali dari tempat ini.
brankas Oey Tiong Ham
Setelah sebelum-sebelumnya setiap kali ke Pringsewu hanya terpaku dengan tempat makan yang di depan dan di bagian tengah, kali ini aku berjalan-jalan ke sudut penjualan oleh-oleh khas Semarang. Ternyata di dalamnya ada semacam brankas yang dulu dibuat untuk menyimpan kekayaan Oey Tiong Ham. Bagus sangaaat, pals!


Lalu di sudut ruang tengah, ada penjara kecil yang kini didesain sebagai ruang makan yang unik. Aku jadi merasa seperti sedang menanti Yoo Jin Woo yang terperangkap di game Memories of Alhambra, wkwk.


Satu hal lainnya yang bikin aku kesengsem sama Pringsewu Semarang yaitu disediakannya toilet untuk difable. Bukankah semua orang punya hak yang sama untuk menikmati hidup, meski mereka difable sekalipun? Semoga semakin banyak resto-resto yang ramah difable seperti Pringsewu yaaa…

Nah, yang paling baru dari Pringsewu Semarang yaitu layanan yang ada di cafe teraz Oey Tiong Ham. Jadi, mulai jam tiga sore di cafe beranda depan, ada program tebus murah hidangan kopi dan roti. Asli.. spot ini pas banget buat nongkrong romantis sama pasangan or sekedar hangout sama teman.


Sambil menikmati kopi dan roti, menanti sang surya yang perlahan tenggelam dari singgasananya, dan menangkap semburat senja dari sudut beranda ini… indah niaaan, pals. Dijamin para blogger langsung bisa bikin 10 tulisan setelah nongkrong di sini, wkkw.

credit foto by Mbak Wati dan Mbak Tanti
Duuh, jadi ngiler pengen kencan ama suamik di situ…. lalu ingat ada duo krucil yang nggondheli, pecah deh romantisme yang terbayang.

Hmm, pokoknya acara 4 tahunnya Gandjel Rel tanggal 23 Februari 2019 lalu petjaaaah banget! Perpaduan antara rangkaian acara yang spektakular, narasumber kocak yang materinya ndagiiing, dan lokasi acara yang sempurna.. Well, I can say that this was the best birthday event of Gandjel Rel! Akhir kata, selamat ulang tahun GRess, sukses dan berkah terus, tentu saja jangan lupa ngeblog ben ra ngganjel! Next, adain event ngopi-ngopi cantik sambil arisan ilmu di Pringsewu Semarang ya mbak-mbak founder!


Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar