Skip to main content
ASTRABRIGHT

follow us

Choose Your Categories

Maltofer Menyelamatkan 1000 Hari Pertama Kehidupan Bangsa Indonesia dari Anemia Defisiensi Zat Besi

Maltofer suplemen zat besi body friendly iron di Indonesia


Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Rabu, 28 Desember 2011 adalah hari yang tak akan pernah kulupakan di dalam hidup. Sebuah sejarah baru tertorehkan di mana akhirnya aku menyandang predikat ibu dari seorang gadis kecil bernama Ifa. Perihnya sayatan di perut tak lagi terasa. Saat itu yang kupikirkan hanya ingin segera lekas sembuh dan bisa membawa gadis kecilku pulang ke rumah. Namun apa yang kuidamkan tak bisa terlaksana.

Kamis paginya, suster memintaku berlatih bangun dari pembaringan dan belajar berdiri. Bismillah, aku bisa… bisikku kepada diri sendiri. Tiba-tiba kepala terasa berputar-putar, perut rasanya ingin memuntahkan isinya. Bahkan aku hampir terjatuh dari dipan rumah sakit. Suster pun tanggap. Setelah membawaku dari ruang observasi ke ruang rawat inap, tes darah pun dilakukan. Sesuai dugaan suster, Haemogolobin (HB) - ku drop hingga ke angka delapan. Padahal angka normal minimal untuk perempuan adalah 12,7! Suster pun berkomentar, “Pantas kalau gliyengan, Bu. Rendah sekali HB nya. Kita transfusi ya agar cepat normal dan bisa segera pulang.” Aku hanya bisa pasrah, yang penting cepat pulang, pikirku saat itu.

Ternyata proses transfusi darah itu sakiiiiiiit. Ketika darah orang lain yang entah siapa itu masuk ke dalam tubuh kita, tangan rasanya pegal. Apalagi darah dengan golongan O cepat sekali menggumpal, hingga beberapa kali aku harus memanggil suster untuk membuatnya cair dan mudah masuk ke tubuhku. Satu kantong saja ternyata tidak cukup menaikkan HB-ku, tambah lagi satu kantong yang harus dialirkan ke dalam tubuh. Pengalaman melahirkanku yang pertama jujur sangat tidak nikmat gara-gara kasus HB drop ini.

pic by Nyi Penengah Dewanti, ilustrasi orang-orang HB rendah, hehe

ada yang mengalami gejala-gejala di atas?
Dengan pengalaman inilah, aku bertekad kalau hamil lagi jangan sampai kejadian HB drop dan ditransfusi lagi, karena sakit bangeeeet. Sayangnya aku sendiri juga tidak membekali ilmu yang cukup tentang serba-serbi HB setelahnya. Saat kehamilan Affan di tahun 2016, aku tak mendiskusikan masalah HB drop kepada dokter kandunganku. Alhamdulillah, drama transfusi darah tak berulang saat melahirkan Affan, meski angka HBku saat itu pun mendekati ambang batas minimal.

Aku pikir masalah HB rendah ini hanya akan membuat tubuh jadi lemah, letih, lesu dan tidak memberikan efek samping lainnya. Bertahun-tahun setelah kejadian transfusi darah karena HB rendah, tepatnya pada hari Minggu, 31 Maret 2019, aku baru tahu kalau HB rendah merupakan bukti kalau tubuh kita kekurangan zat besi. Masalahnya, kurang zat besi itu bisa bikin tubuh kita mengalami banyak gangguan.

Parahnya, ibu yang memiliki masalah kekurangan zat besi akan meneruskan masalah tersebut ke anak-anaknya. Waktu aku mendapat informasi tersebut, aku hanya bisa manggut-manggut… pantas saja Ifa pernah diberikan terapi zat besi di saat umurnya sekitar 12 bulan karena berat badannya stuck di angka yang sama selama berbulan-bulan. Duh, aku langsung merasa bersalah. 
acara seru dan bergizi!
Semakin hanyut dengan materi yang disampaikan pada hari itu, semakin besar rasa bersalahku. Jangan sampai kalian merasakan penyesalan sepertiku, pals… that’s why hari ini aku mau berbagi informasi yang kudapat pada seminar berjudul “Peran Penting Zat Besi dalam 1000 Hari Pertama Kehidupan Anak (Golden Age) Nan Cemerlang”.

Zat Besi dan 1000 Hari Pertama Kehidupan Anak

Saat pertama kali aku mendengar info akan diadakannya seminar yang diselenggarakan oleh Maltofer ini, aku langsung meminta izin pada suami untuk dibolehkan hadir. Aku merasa sangat membutuhkan sekali informasi ini, apalagi pernah punya pengalaman berharga terkait kekurangan zat besi. Alhamdulillah suami pun memberikan izinnya.

Bertempat di Hotel Noormans Semarang, begitu melangkah menuju lokasi acara, sudah disediakan booth untuk melakukan cek HB. Feeling-ku sudah nggak asyik. Apalagi Sabtu malam aku baru saja dibekam, jangan-jangan… pikiran jelekku mulai merasuki. Dan benar saja… hasil tes HB menunjukkan angka 10! Kapsul sample Maltofer yang ada di dalam goodybag langsung kuminum saja, siapa tahu bisa bikin HB merangkak naik ya kan?
lihat wajahku yang mengkeret ketakutan saat cek HB, takut jaruuuum :D


Pemateri pertama pagi hari itu yaitu dokter spesialis anak yang sangat sabar. Meski tidak lagi muda, namun beliau cukup enerjik, bahkan saat sesi tanya jawab, beliau ikut menghampiri penanya dari depan ke belakang ruangan. Masya Allah, kereen banget. Jawaban-jawaban yang diberikan pun sangat jelas dan memuaskan. Bernama dr. Hartono, Sp. A. Sayangnya tidak praktek di Semarang. Menurut informasi yang disampaikan Mas Puja, sang pembawa acara, dr. Hartono, Sp. A ini praktek di Rumah Sakit Kajen. 
dr. Hartono, Sp. A, narasumber seminar Maltofer Woman Community

Pak dokter yang ramah ini menyampaikan bahwa nutrisi pada 1000 hari pertama kehidupan (HPK) anak sangat mempengaruhi tumbuh kembang anak di masa-masa berikutnya. Kurang gizi pada 1000 HPK tidak dapat diperbaiki di masa kehidupan selanjutnya. 1000 HPK sendiri dimulai sejak pembuahan hingga anak berusia 2 tahun. Itu kenapa status nutrisi berperan penting dalam 1000 HPK anak. Duh, plak banget ini… langsung ingat anak-anak…


Nutrisi yang cukup pada 1000 HPK seorang anak pada jangka pendek akan berpengaruh pada perkembangan otak, pertumbuhan, massa otot dan komposisi tubuh, serta pengaturan metabolisme glukosa, lipid, protein hormon/ reseptor/ gen. Sedang untuk jangka panjangnya berpengaruh pada kemampuan kognitif dan edukasional, imunitas dan kemampuan kerja, munculnya sejumlah penyakit seperti diabetes, obesitas, penyakit jantung, tekanan darah tinggi, kanker, stroke dan penuaan.

Nah, masalahnya banyak yang belum aware bahwa salah satu tanda kecukupan nutrisi pada anak yaitu terpenuhinya kebutuhan zat gizi. Biasanya baru ketahuan seorang anak kurang zat besi ketika muncul masalah seperti Ifa, yaitu saat berat badannya tak kunjung naik dan ketika dilakukan observasi baru deh ketahuan kalau kekurangan zat besi.

Padahal sebenarnya kalau sejak proses hamil atau melahirkan, seorang ibu sudah terdiagnosa kurang zat besi, bayinya wajib juga dicek kadar HB-nya dan dilakukan secara berkala. Seperti yang tadi aku jelaskan di atas, ibu yang memiliki HB rendah akan menularkan kondisi ini ke anaknya. Dan memang hampir sebagian besar bayi akan mengalami penurunan HB ketika berusia 6 bulan. Sayangnya karena kurang kesadaran tentang pentingnya zat besi ini banyak yang tak paham dan tidak melakukan screening HB secara berkala.

Zat besi mempunyai peranan penting sebagai transportasi oksigen ke seluruh tubuh yang nantinya akan menghasilkan energi. Kekurangan zat besi di masa kehamilan bisa membuat pertumbuhan janin terhambat (PJT), yang kemudian akan membuat anak tersebut kurang gizi. Padahal sering ya kita dengar celoteh para orangtua, “Nggak papa lahirnya kecil, nanti kalau sudah di luar perut bisa digedein.”

Sedangkan efek PJT terus berkelanjutan, apalagi kalau setelah itu pola makan dan nutrisinya tak dijaga dengan baik hingga anak berusia 2 tahun, akhirnya terciptalah anak-anak yang bergizi buruk dan stunting. Tidak hanya sampai situ saja, anak-anak yang gizinya buruk dan stunting biasanya cenderung memiliki IQ rendah. Nggak mau kan kalau anak-anak kita memiliki IQ di bawah orangtuanya?

Bahkan yang mencengangkan dr. Hartono, Sp. A menyampaikan anak-anak yang hiperaktif biasanya cenderung kekurangan zat besi. Lo kok bisa ya? Kalau di orang dewasa kan ciri-cirinya lemah, letih, lesu… kalau anak-anak kenapa justru hiperaktif? Ternyata karena zat besi sangat berpengaruh pada awal perkembangan otak anak-anak, terutama perkembangan metabolik dan struktur otak di bagian korteks cerebral dan hippocampus. Korteks cerebral memainkan peran penting pada perhatian, memori/ ingatan, kesadaran persepsi, daya pikir dan bahasa. Sedangkan hippocampus berperan sebagai pusat memori untuk memori pengenalan, pengolahan memori spasial, dan mentransfer memori jangka pendek menjadi memori jangka panjang. 


Jika perkembangan otak terganggu karena kurang zat besi, maka akan berpengaruh pada kinerja kognitif yang buruk, fungsi motorik buruk hingga gangguan perilaku sosioemosional. Makanya orang yang kurang zat besi cenderung lebih mudah marah. Plak lagi deh buat aku, pantesan aku doyan ngomel... la memang HB-ku cenderung rendah terus! Kalau sejak anak-anak sudah kekurangan zat besi nanti akan terus bertahan sampai remaja. Untuk remaja putri akan terasa dampaknya ketika telah menstruasi, di mana setiap menstruasi bisa jadi sering pusing dan lemes, karena HB-nya rendah.

Mengatasi Anemia Defisiensi Zat Besi (ADB) pada Anak dan Dewasa

Wah, ternyata efek dari kekurangan zat besi bisa sampai ke mana-mana ya. Beruntung buat teman-teman yang sekarang sedang hamil atau anaknya masih di masa-masa HPK, jadi masih bisa dikoreksi nih asupan zat besinya. Terus bagaimana dong kalau kaya aku yang anak-anaknya sudah lewat HPK? Hiks, jadi sedih karena selama ini menganggap enteng masalah nutrisi dan nggak aware tentang pentingnya zat besi.

Menurut dr. Hartono, Sp. A, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Jika sudah lewat dari 1000 HPK sebaiknya dikonsultasikan pada dokter anak dan dilakukan screening HB. Jika hasil screening HB menunjukkan anak kekurangan zat besi, maka sebaiknya diberikan terapi zat besi. Lalu perlu sekali adanya tes HB secara berkala.

Pada anak-anak dengan anemia mikrositik ringan dan didiagnosis adanya ADB, terapi besi oral dapat diberikan melalui tiga tahapan proses:

1. Dosis dan penjadwalan terapi besi yang tepat.
2. Modifikasi diet/ asupan makanan.
3. Follow up penilaian respon.

Tiga tahap tersebut harus dalam pengawasan dokter ya gaess, jangan asal. Buat anak masa asal-asalan?

Untuk dewasa pun sebenarnya urutannya sama. Lakukan cek HB dulu baru deh bisa diketahui seberapa banyak kita kekurangan zat besi, karena nantinya dari situ kita bisa tahu seberapa banyak suplemen zat besi yang kita butuhkan.

Namun jika hasil cek HB menunjukkan angka normal atau di angka batas minimal, terapi zat besi bisa cukup dilakukan melalui makanan. Makanan apa saja hayo yang mengandung zat besi? Ternyata ada dua jenis makanan yang baik untuk meningkatkan zat besi; makanan yang mengandung besi-heme dan yang mengandung besi - non heme. 

Jenis makanan yang mengandung besi-heme yaitu daging merah, ayam dan ikan. Jenis-jenis makanan ini zat besinya tiga kali lebih mudah diserap dibandingkan makanan yang mengandung besi non heme. Makanan dengan besi non heme yaitu sayuran-sayuran hijau. Namun penyerapan makanan dengan bahan dasar sayuran ini dipengaruhi oleh adanya faktor penghambat dan faktor yang meningkatkan.

Jika sembari mengonsumsi makanan besi - non heme kita juga mengonsumsi makanan mengandung vitamin C, maka absorpsi non heme akan meningkat lebih cepat. Namun absorpsi besi - non heme bisa terhambat jika kita mengonsumsi berbarengan dengan makanan yang mengandung phytates (misal dedak, beras meras), kalsium (produk susu) dan polifenol (terdapat pada jenis-jenis sayuran tertentu dan tanin di dalam teh). Wah, kudu diperhatikan banget yaa… kalau habis makan bayam jangan minum teh, pals… mubazir nanti zat besinya tak terserap maksimal.

Maltofer, Suplemen Zat Besi yang Terpercaya

Kembali ke masalah terapi zat besi nih, pals... aku jadi ingat waktu Ifa didiagnosa mengalami ADB, Ifa diresepi Maltofer Drops. Sayangnya saking kurang ilmu, setelah satu botol habis aku nggak konsultasi lagi ke dokternya. Sekarang baru ngeh kalau cek HB itu harus berkala biar terpantau apakah kebutuhan zat besinya sudah cukup atau belum.
bedanya Maltofer vs suplemen zat besi lainnya

Saat hadir ke acara seminar yang diselenggarakan oleh Maltofer tersebut, aku baru tahu kenapa para dokter meresepkan Maltofer sebagai terapi zat besi kepada pasiennya. Pertama, karena Maltofer ini sudah jaminan mutu banget. Umurnya saja lebih tua dariku, 50 tahun di dunia! Kalau di Indonesia sih baru 10 tahun, namun satu-satunya suplemen zat besi yang body friendly iron dan memiliki varian tablet kunyah pertama. 

Mbak Deloni dari Maltofer menunjukkan lewat video bahwa Maltofer mengandung zat besi jenis Iron (III) Polymaltose Complex (IPC) yang mampu melepaskan zat besi secara aktif dan terkontrol sesuai kebutuhan tubuh sehingga tidak terjadi penumpukan zat besi. Kalau suplemen lainnya, zat besi di dalamnya langsung dilepaskan begitu saja ke tubuh dan zat besi yang tak dibutuhkan akhirnya menumpuk, sehingga bisa mengakibatkan gangguan fungsi tubuh lainnya, seperti mual, luka lambung, gangguan jantung dan susah BAB.
mbak Deloni menunjukkan bedanya Maltofer vs suplemen lain

Saat itu diperagakan juga perbedaan antara Maltofer vs suplemen zat besi lainnya. Zat besi lain tidak langsung larut di dalam air, sedangkan Maltofer langsung larut dengan mudahnya. Artinya, dibandingkan suplemen zat besi lainnya, Maltofer jauh lebih mudah diserap oleh tubuh dan aman dikonsumsi bersama dengan makanan dan minuman apapun. 
alasan memilih Maltofer dibanding suplemen zat besi lainnya

Keunggulan Maltofer lainnya yaitu karena ini satu-satunya suplemen yang memiliki rasa cokelat. Dijamin anak-anak dan orang dewasa pun akan suka mengonsumsinya, siapa yang nolak dikasih cokelat kan?

Kerennya lagi, Maltofer ini punya empat varian yang bisa dipilih sesuai kebutuhan kita:

1. Maltofer Fol

Yaitu kapsul Maltofer yang diperuntukkan ibu hamil, sudah mengandung asam folat. Sebaiknya diberikan dengan konsultasi dokter. Pak Hartono juga menyampaikan untuk ibu hamil yang mengalami morning sickness di trimester pertama biasanya akan semakin mual jika mengonsumsi suplemen zat besi, maka jika mengganggu bisa dilakukan terapi zat besi mulai di trimester kedua.

2. Maltofer Chew

Merupakan tablet kunyah IPC pertama di Indonesia untuk segala usia.


3. Maltofer Syrup

Kemasan sirup isi 150 ml, dengan kandungan 1 ml = 10 mg Fe untuk anak dan dewasa.

4. Maltofer Drops

Kemasan tetes isu 30 ml untuk bayi dan anak. Ini nih yang dulu diresepkan dokter untuk Ifa saat berat badannya nggak naik-naik.

Aku bersyukur sekali bisa hadir di acaranya #MaltoferIndonesia ini, sehingga aku yang tadinya fakir ilmu mengenai zat besi dan serba-serbinya, kini jadi bisa lebih aware. Yang pasti PR ku sebagai orangtua semakin banyak nih. Selain memberikan pola asuh yang tepat, aku juga harus bisa memberikan nutrisi yang seimbang.. apalagi anak-anakku sudah lewat 1000 HPK.. harus mengejar banyak ketertinggalan. Doakan aku ya pals semoga bisa lari cepat untuk mengerjakan PR-PRku tersebut. Dan jangan lupa… untuk Indonesia yang bebas dari kekurangan zat besi, selalu cek HB semua anggota keluarga secara berkala dan sedia Maltofer di kotak P3K! Semoga bermanfaat.
wajah-wajah sumringah para blogger setelah mendapat ilmu serba-serbi zat gizi
Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.


You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar