Skip to main content
ASTRABRIGHT

follow us

Choose Your Categories

Kisah Nabi Idris, Manusia Cerdas Penghuni Surga



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Di hari kedua #30HRB aku akan mencari tahu lebih dalam tentang Kisah Nabi Idris. Jujur, kisah tentang Nabi Idris tidak banyak melekat di ingatan. Kisah nabi yang masih melekat dengan baik adalah kisah Nabi Adam sang manusia pertama, Nabi Nuh dengan kapalnya, Nabi Luth dengan kaum sodom, Nabi Isa yang diangkat ke langit dan kelak akan turun ke muka bumi untuk menumpas dajjal, Nabi Musa yang mampu membelah lautan dan Nabi Muhammad sang Nabi terakhir yang sarat dengan keteladanan.

Aku baru benar-benar mengenal kisah Nabi Idris ketika membelikan buku Nabiku Idolaku untuk Ifa. Di buku itu aku jadi tahu bahwa Nabi Idris adalah nabi yang dikenal dengan kecerdasannya.

Kisah-kisah Nabi Idris di Buku Nabiku Idolaku

Di dalam buku Nabiku Idolaku jilid 1 - Kisah Nabi Adam dan Nabi Idris, yang ditulis oleh Kak Eka Wardhana, ada beberapa kisah terkait Nabi Idris. Beliau menyusun buku ini tentu dengan riset yang panjang. Akan aku ceritakan beberapa kisah tersebut.

Kisah pertama tentang Nabi Idris yang diberkahi kecerdasan luar biasa oleh Allah. Beliau merupakan orang pertama yang mengembangkan ilmu berhitung, ilmu perbintangan, ilmu menjahit dan bahkan beliau orang pertama yang membuat timbangan. Nabi Idris juga orang pertama yang mampu menjinakkan kuda sebagai tunggangan. Betapa banyak hal yang Nabi Idris temukan untuk mempermudah kehidupan manusia.


Kisah kedua tentang Nabi Idris yang dikaruniai tubuh tegap dan kuat. Beliau mampu mematahkan batangan besi dan mengangkat pohon tumbang di jalan. Nabi Idris juga membuat senjata dan mendalami ilmu perang untuk melawan orang-orangan yang terang-terangan menyembah api. Beliau digelari sebagai Asadul Usud atau singa dari segala singa karena berperang layaknya singa di pertempuran melawan orang-orang kafir.



Kisah ketiga, tentang kesabaran Nabi Idris dalam mendakwahi kaumnya yang suka menyembah api. Hanya segelintir orang yang mau menerima dakwah nabi Idris, sebagian besar justru menertawakan beliau. Mereka menyembah api karena menurut mereka api adalah hal hebat. Api bisa menerangi saat malam, api bisa mematangkan air dan makanan dan api bisa membengkokkan logam untuk membuat peralatan.

Nabi Idris menyampaikan kepada mereka bahwa seharusnya yang disembah adalah Allah. Allah bukan saja yang menciptakan api di muka bumi ini, namun juga yang menciptakan manusia, yang menghidupkan ternak, menghamparkan kebun-kebun. Nabi Idris juga memperingatkan kaumnya, jika mereka tak jua menyembah Allah, bisa jadi Allah membuat kebun-kebun mereka paceklik.

Sayang orang-orang penyembah api tak mempercayai ucapan Nabi Idris. Hingga akhirnya Allah memerintahkan Nabi Idris untuk berhijrah bersama orang-orang yang percaya atas dakwahnya. Setelah beliau hijrah, kaum penyembah api benar-benar mengalami paceklik, sedangkan Nabi Idris dan mereka yang mempercayainya hidup dengan damai.



Kisah keempat yaitu kisah yang fenomenal. Kisah saat Nabi Idris didatangi oleh malaikat Izrail, malaikat pencabut nyawa. Malaikat Izrail bertamu ke rumah Nabi Idris dalam sosok yang rupawan. Saat menginap di rumah Nabi Idris, malaikat Izrail terus-terusan beribadah tanpa makan, minum dan tidur. Hal ini tentu saja membuat Nabi Idris bertanya-tanya.

Seakan tahu akan rasa bingung yang dialami Nabi Idris, malaikat Izrail pun memperkenalkan diri. Nabi Idris kaget dan mengira ajalnya telah tiba. Namun Malaikat Izrail berkata bahwa ia datang bukan untuk mencabut nyawa Nabi Idris, ia hanya ingin beribadah dengan Nabi Idris. Nabi Idris senang sekali. Beliau lalu bertanya tentang proses pencabutan nyawa yang sangat ingin ia ketahui. Malaikat Izrail menolak karena ia tak bisa mencabut nyawa seorang hamba tanpa izin dari Allah.

Kemudian Allah memberikan izin kepada malaikat Izrail untuk mencabut nyawa nabi Idris dan mengembalikannya lagi. Nabi Idris berkata bahwa ia tak merasakan apapun. Malaikat Izrail lalu berkata bahwa orang-orang beriman akan dicabut nyawanya dengan sangat lembut, sedangkan orang yang tak beriman akan dicabut secara kebalikannya. Mendengar hal ini Nabi Idris murung, ia membayangkan kesakitan orang-orang yang tak beriman saat dicabut nyawanya.

Selanjutnya Nabi Idris juga mengajukan permintaan untuk melihat neraka dan surga. Atas izin Allah, Malaikat Izrail pun mengajak Nabi Idris ke neraka. Nabi Idris saat melihat neraka yang mengerikan pingsan seketika. Saat terbangun, beliau telah berada di sebuah tempat yang sangat indah. Ternyata itu adalah surga. Nabi Idris pun menyebut nama Allah berulangkali saking terkesimanya dengan keindahan tempat tersebut. Beliau lalu memohon dengan berlinang air mata bahwa beliau berharap diizinkan untuk tinggal dan beribadah di surga hingga hari akhir. Allah pun mengizinkan.

Kisah-kisah tersebut memang tidak diceritakan di Al Quran. Nama Nabi ldris tersebut di dalam al-Quran hanya dua kali. Pertama pada Al Quran surat Maryam: 56-57. dan pada surat Al-Anbiya', ayat 85;-86. Kisah tentangnya pun tidak begitu gamblang, untuk memahami kisahnya kita perlu membaca hadits-hadits shahih yang berkaitan.

Nabi Idris dalam Quran Surat Maryam: 56-57

56. Ważkur fil-kitābi idrīsa innahu kāna ṣiddīqan nabiyyā 
Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Idris di dalam Kitab (Al-Qur'an). Sesungguhnya dia seorang yang sangat mencintai kebenaran dan seorang nabi.

Dari ayat pendek ini kita bisa mengambil hikmah bawah kisah Nabi Idris adalah salah satu kisah yang Allah perintahkan bagi Nabi Muhammad dan kaumnya untuk dipelajari dan diteladani. Salah satu hal yang harus kita teladani adalah sifatnya yang shiddiq, yaitu seseorang yang sangat mencintai kebenaran. Di ayat ini pula kita harus meyakini bahwa Idris adalah salah satu nabi Allah.

Di dalam Tafsir al-Qurthubi disebutkan bahwa Nabi ldris itulah manusia yang mula-muia menulis dengan qalam. Yang mula-mula menjahit dengan jarum. Yang mula-mula mengetahui ilmu bintang dan ilmu hisab. Dia bernama Idris, yang diartikan belajar, karena dia banyak sekali belajar Kitab Allah. Ada disebut bahwa kepadanya diturunkan 30 Shuhuf.

57. wa rafa'nāhu makānan 'aliyyā 
dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.

Karena sifat shiddiq-nya, Nabi Idris diangkat martabatnya. Meski begitu ada pula yang mengartikan ayat ini secara berbeda dengan "Dan telah Kami angkatkan dia ke tempat yang tinggi." Ada dua tafsir berbeda mengenai hal ini.

Tafsir pertama menyatakan bahwa maksud dari martabat yang tinggi adalah Allah muliakan kedudukan Idris karena beliau salah satu nabiNya yang shiddiq. Di ayat 56 sebelumnya, Allah telah memujikan keistimewaan Idris, bahwa beliau adalah se orang yang sangat benar, sangat jujur, artinya seorang yang lurus. Oleh karenanya Allah angkat beliau menjadi Nabi.

Oleh karena sangat jujur, sangat benar dan sangat lurusnya itu, sudah pastilah martabatnya di angkatkan Allah kepada tempat yang tinggi dan agung. Di dalam Surat al-Mujadilah ayat 11 Allah bersabda,"Akan diangkatkan oleh Allah orang-orang yang beriman daripada kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat." Maka tinggilah kedudukan Idris itu karena jujurnya dan lurusnya.

Sedang tafsir yang kedua menyatakan bahwa martabat atau tempat yang tinggi ini maksudnya tentang ditempatkannya Nabi Idris di dalam surga. Karena tidak banyak kisah Nabi Idris di dalam Al Quran, maka kisah-kisah tentang beliau banyak kesimpangsiuran. Wallahu’alam.

Namun menurut beberapa riwayat hadits shahih, oleh Bukhari yang diterimanya dari Syarik bin Abdullah bin Abu Namir, bahwa dia mendengar sahabat Rasulullah s.a.w. Anas bin Malik r.a, juga dalam riwayat yang disampaikan oleh Muslim dari Malik bin Sha'sha'ah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menceritakan ketika beliau mi’raj ke langit, beliau bertemu dengan banyak nabi. Di langit keempat, beliau bertemu dengan Nabi Idris. Hadits ini sesuai dengan kisah keempat Nabi Idris yang diceritakan oleh Kak Eka Wardhana di buku Nabiku Idolaku.

Nabi Idris dalam Quran Surat Al Anbiya 85 - 86

Dalam surat yang merupakan kumpulan kisah para nabi ini, kisah nabi Idris ditulis secara singkat dan tidak detail.

56. Wa ismā'īla wa idrīsa wa żal-kifl, kullum minaṣ-ṣābirīn 
Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris dan Zulkifli. Mereka semua termasuk orang-orang yang sabar.

Di ayat ini, Allah meminta kita belajar kesabaran dari tiga nabi, yaitu Ismail, Idris dan Zulkifli.

Kesabaran yang dimaksud adalah sabar dalam tiga hal. Sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, sabar dalam menjauhi larangan Allah, dan sabar terhadap taqdir Allah yang terasa pedih.

Seorang hamba tidak berhak mendapat gelar sabar secara sempurna sampai terpenuhi ketiga macam sabar ini. Para nabi, Allah sebut sebagai orang-orang yang sabar karena mereka telah memenuhi ketiganya. Selain itu, Allah menyifati mereka dengan kesalihan karena kesalehan hati mereka yang dipenuhi ma’rifatullah dan kecintaan kepada-Nya, kesalihan lisan mereka dengan basah menyebut nama-Nya, dan kesalihan anggota badannya karena sibuk mengerjakan ketaatan kepada Allah dan menjaga dirinya dari maksiat.

Kesabaran Nabi Idris tergambar di kisah ketiga di buku Nabiku Idolaku saat beliau berdakwah namun hanya segelintir orang yang mempercayainya. Meski begitu, ia tetap bersabar di jalanNya.

57. Wa adkhalnāhum fī raḥmatinā, innahum minaṣ-ṣāliḥīn

Dan Kami masukkan mereka ke dalam rahmat Kami. Sungguh, mereka termasuk orang-orang yang saleh.

Karena kesabaran dan kesalehan inilah, Allah masukkan dengan rahmat-Nya dan menjadikan mereka bersama saudara-saudara mereka dari para rasul serta memberikan pahala di dunia dan akhirat. Kalau sekiranya, pahala mereka adalah dengan disebut tinggi namanya di alam semesta serta disebut baik sekali oleh orang-orang setelahnya, maka hal itu pun sudah cukup sebagai kemuliaan dan ketinggiannya.

Hikmah Kisah Nabi Idris


Meskipun di dalam Al Quran kisah nabi Idris tidak diceritakan secara detail, namun yang perlu kita yakini adalah kenabian beliau patut diimani. Tentang benar atau tidaknya kisah-kisah terkait Nabi Idris hanyalah Allah yang tahu, namun sesuai dengan riwayat hadits shahih, penting bagi kita mengimani bahwa beliau saat ini ada di surga. Kisah Nabi Idris ini mengingatkan pada kita bahwa hal-hal yang tak mungkin bagi kita adalah hal yang sangat mungkin bagi Allah.

Dari Nabi Idris kita belajar untuk menjadi orang yang shiddiq yaitu orang-orang yang mencintai kebenaran. Bukan hanya mengakui kebenaran, namun juga menyampaikan kebenaran meski banyak orang menentang kita.

Dari Nabi Idris pula kita belajar tentang kesabaran. Sabar dalam menyampaikan kebenaran meski dikucilkan dan dianggap aneh. Sabar untuk tetap istiqomah dalam kebenaran. Insya Allah jika kita mampu menjadi orang yang shiddiq seperti Nabi Idris, kelak kita juga akan dianugerahi surga oleh Allah, sebagaimana Nabi Idris yang ditempatkan Allah di surgaNya.

Semoga kita bisa menjadi penerus Nabi Idris ya pals… menjadi orang-orang yang tak gentar menyampaikan kebenaran dan terus istiqomah di jalan Allah. Aamiin.

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar