Skip to main content
ASTRABRIGHT

follow us

Choose Your Categories

Konferensi Ibu Profesional 2019; Sebuah Berkah dan Sekotak PR Untukku



'Cause every night I lie in bed
The brightest colors fill my head
A million dreams are keeping me awake
I think of what the world could be
A vision of the one I see
A million dreams is all it's gonna take
A million dreams for the world we're gonna make


Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Lirik lagu A Million Dreams yang merupakan original soundtrack dari The Greatest Showman masih terus terngiang di kepalaku. Bahkan sembari menyelesaikan postingan ini, playlist Deezer-ku sengaja kupasang lagu ini dengan berbagai versi. Ada apa dengan lagu ini? 

Selain pernah menjadi lagu favorit zaman The Greatest Showman tayang dulu kala, berulang kali memutar lagu ini karena aku masih jadi bagian dari squad galonnya Konferensi Ibu Profesional (KIP) 2019. Squad galon, apa lagi itu? Gagal move on, gaesss!

Buat yang berteman denganku di sosial media atau sering lihat whatsapp story-ku (sok femes banget yaks), mungkin beberapa ada yang tahu kalau seminggu lalu aku menghadiri KIP 2019. Setelah mengenal Ibu Profesional sejak 2012 dan resmi bergabung dengannya sejak 2017, baru kali ini aku bisa menghadiri event nasional yang diselenggarakan oleh IP. Bukan sekedar menjadi peserta, namun aku mendapat kesempatan untuk ambil bagian dari kepanitiaan event keren ini! Jadi bisa bayangkan dong bagaimana excited-nya diriku?

However big, however small
Let me be part of it all
Share your dreams with me
You may be right, you may be wrong
But say that you'll bring me along
To the world you see
To the world I close my eyes to see
I close my eyes to see

Kalau boleh memuji diri sendiri, aku tipe yang cukup setia. Ketika sudah kadung cinta dengan sesuatu, aku akan memberikan semua yang aku miliki dan mempertahankannya sekuat tenaga. Begitu juga ketika aku memutuskan nyemplung ke IP dan setiap hari semakin dibuat jatuh cinta dengan semua hal yang ada di dalamnya, aku ingin bisa memberikan apa yang kupunya. Meski kecil, dan mungkin buat orang lain bukanlah hal yang berarti.

Jari-jemari menelusuri lini masa.
Mata yang mulai lelah berair tanpa ujung, sontak menggulirkan butir bahagia.
Saat pertemuan pertama dengan Ibu Profesional akhirnya tak lagi berjeda.

Aliran Rasaku versi Video, better listen it using headphone...

Kenapa bisa secinta itu pada komunitas parenting dan perempuan terbesar ini? Semuanya secara singkat telah kutuangkan pada narasi kemerdekaan yang kutulis dan kubacakan di salah satu sesi KIP 2019. Buat yang belum membacanya, bisa cuzz ke sini.

Tak cukup kata untuk menceritakan betapa aku sangat berterima kasih karena Allah mempertemukan aku dengan komunitas ini. Ada banyak hal yang kupelajari dan kudapatkan. Di sini aku melesat, membangun versi terbaik dari diriku. Aku semakin mengenal diri sendiri dan tahu apa yang bisa kulakukan. Aku bertemu banyak orang-orang hebat yang setiap hari melecutku agar tak berhenti bergerak.

Tahun lalu ketika leaders camp diadakan di Salatiga, aku merasa sangat sedih karena tak bisa menghadirinya. Mendengar cerita dari teman-teman yang datang ke sana, hatiku berontak dan berazzam, “Next event aku harus hadir, bismillah!”

Aku lupa tepatnya kapan ketika akhirnya diseret menjadi bagian dari tim kepanitiaan KIP 2019. Senang sekali. Selain karena bisa bersilaturahmi dan berkolaborasi dengan timnas IP dan banyak teman dari regional lain. Aku juga belajar hal-hal baru lagi. Baru berada di whatsapp group bersama orang-orang hebat itu saja aku sudah merasa sangat beruntung dan bergetar luar biasa, ketularan semangat mereka yang soo awesome. Apalagi membayangkan bisa berada di KIP dan bertemu mereka secara nyata.



Perjalanan Menuju KIP 2019


Apa semudah itu aku akhirnya bisa sampai ke KIP 2019? 

Tentu tidak! Aku sempat patah semangat. Ketika nominal HTM diumumkan, hatiku berdesir. Mampukah? Itu bukan angka yang kecil buatku. Aku mencoba mendiskusikannya dengan suami, belum ada titik temu. Suami tak mempermasalahkan jika aku ingin menghadiri event tersebut, dengan catatan anak-anak dibawa. Aku mulai menghitung-hitung berapa biaya yang harus aku keluarkan jika aku memboyong Ifa dan Affan. Belum lagi untuk transportasi dan uang saku di perjalanan. Sanggupkah?

Aku tak tega jika harus merengek pada suami untuk membayari keberangkatanku bersama anak-anak ke KIP 2019. Sudah diizinkan boleh datang saja aku sudah sangat bersyukur. Kuhitung-hitung invoice dari beberapa pekerjaan yang belum cair, rasa-rasanya cukup untuk bisa membayar HTM untuk diriku saja, tapi anak-anak bagaimana?

Aku hampir menggantung impianku untuk menghadiri KIP 2019. Sudahlah, Rit... terlalu impossible untuk diraih. Pendaftaran dengan HTM early bird akhirnya ditutup dan aku belum juga menitipkan namaku di sana. Aku mulai berdamai dengan keadaan. Mungkin Allah belum takdirkan diriku hadir di sana, pikirku saat itu. Apalagi tanggal pelaksanaan event bersamaan dengan agenda tirakatan 17an di perumahan tempatku tinggal. Qodarullah tahun ini tim dawisku mendapat jatah jadi petugas konsumsi, dan aku ketua dawisnya. Ya, masa aku harus meninggalkan mereka bertugas sendirian?



Hingga suatu hari, aku berkesempatan ngobrol dengan mbak Indah Laras. Sosok yang kusebut sebagai mak pawang di IP Semarang. Buatku, beliau bukan sekedar koordinator program KLIK, kampanye anti bullying yang kami kerjakan bersama-sama, tapi sudah seperti ibu sendiri. Mungkin karena namanya mirip sama ibuku ya, hehe.

Kuceritakan kegundahanku mengenai kecilnya kemungkinan aku bisa menghadiri KIP 2019. Kenapa pada beliau kuceritakan kegalauan ini pertama kali? 

Jadi… KLIK masuk sebagai salah satu pemenang Call for Paper (CFP) di KIP, dan mendapat kesempatan untuk mempresentasikan ide awal dan program-programnya di sesi Bincang Bernas. Sebuah kesempatan yang sangat besar! Senang rasanya KLIK mendapat apresiasi. Akhirnya kami bisa membagikan semangat KLIK secara lebih luas.


Awalnya saat aku dan teman-teman mendorong mbak Indah mengirimkan paper tentang KLIK, kami jelas sudah sepakat jika KLIK lolos, maka mbak Indah yang akan berdiri di panggung KIP untuk mempresentasikan mengenai program dari kelas berbaginya IP Semarang ini. Namun begitu pengumuman CFP ditayangkan, bersamaan dengan itu mbak Indah memberi kabar bahwa beliau tak bisa menghadiri KIP. Dikarenakan tim marching band putrinya harus berangkat ke Istana Negara untuk tampil di sana pada upacara hari kemerdekaan.

Kami mencoba menyusun berbagai rencana-rencana lain. KLIK harus tetap mewarnai KIP, tidak mungkin kesempatan besar ini disia-siakan. Hingga kemudian mbak Indah terpikir untuk membuat video tentang KLIK yang bisa ditayangkan di KIP, dan meminta aku untuk mewakilinya. Kenapa aku? Karena aku bagian dari KLIK squad dan jadi panitia di KIP.

That’s why, aku soooo galau. Ada amanah yang harus kujalankan di KIP, namun nominal yang tak sedikit menyurutkan langkahku. Mbak Indah memberikan saran yang sudah kuduga sebelumnya, “Coba komunikasikan dengan pengurus lainnya, Rit… siapa tahu mereka bisa membantu.



Sebenarnya dari pengurus IP Semarang sudah memberikan subsidi untuk keberangkatanku ke KIP, namun ternyata aku tetap tak bisa menutup sisanya. Dan jujur aku paling gengsi minta bantuan masalah ekonomi ke orang lain. Misqueen kok sombong itu ya eike, wkwk. 

Setelah ngobrol sama mbak Indah, aku lanjutkan obrolan kegalauanku dengan Mbak Hessa, partner yang akan bersama-sama ke KIP. Eh ternyata doi pun sama galaunya denganku. Akhirnya kami beranikan mengangkat hal ini ke tim pengurus. Alhamdulillah, jalan menuju KIP semakin terbuka lebar. Nggak sabar rasanya menanti 16 - 18 Agustus 2019. Dari sini saja aku belajar satu hal;

Kalau ada masalah itu diobrolkan dan didiskusikan, bukan dipendam sendiri. Yang ada bukannya ketemu jalan keluar, tapi cuma jadi jerawat.

Untuk mau bergerak ke KIP, kalau tidak karena diri kita sendiri, itu tidak mungkin! Allah tidak memampukan orang yang bisa bergerak, tapi yang mau bergerak.

Kalimat Bu Septi Peni yang kudengar di sesi “Pergerakan Perempuan Indonesia” membuatku tersenyum malu mengingat masa-masa galau itu. Tidak mungkin buatku, namun Allah akan selalu mampu memungkinkan semua hal. Selama niat kita baik, Allah pasti akan mudahkan jalannya. 

Di perjalanan pulang ke Semarang, aku lagi-lagi mendapat teguran dari Allah. Cerita mbak Uswatun Hasanah tentang perjuangannya menuju KIP, yang juga salah satu narasumber CFP, semakin menguatkanku bahwa kekuatan niat dan doa akan mampu menggerakkan Allah, membuat segala ketidakmungkinan menjadi mungkin.

The Unforgettable Three Days


Siang itu, Jum'at, 16 Agustus 2019… saat akhirnya kaki menjejak di Hotel Sahid Jaya, Yogyakarta, bagaikan sebuah mimpi yang menjadi nyata. Berkali-kali kuucapkan syukur atas semua kemudahan yang Allah berikan hingga akhirnya aku bisa hadir pada konferensi para ibu ini.



Mungkin buat sebagian teman, konferensi ibu terdengar cukup aneh. Ngapain sih ibu-ibu berkonferensi segala? Sudahlah, fokus saja sama urusan keluarga, tetek bengek dapur dan hal-hal yang biasa dilakukan oleh para ibu pada umumnya. 

Kalau kata Ibu Septi, ibu ideologis bagi semua anggota Ibu Profesional, “Sesungguhnya setiap perempuan memiliki pergerakannya masing-masing.” Maka mari berjuang dengan cara kita masing-masing. Jika menurut teman-teman menjadi seorang ibu cukup menjalankan peran dengan urusan domestik sebaik-baiknya, lakukanlah. Namun buat kami yang berjuang sekuat tenaga dan pikiran untuk bisa datang ke KIP, kami meyakini bahwa every mother is a changemaker. Ada hal-hal yang mengusik jiwa kami. Pertanyaan demi pertanyaan yang harus dijawab, dan KIP memberikan jawaban atas semua pertanyaan tersebut.

They can say, they can say it all sounds crazy
They can say, they can say we've lost our minds
I don't care, I don't care if they call us crazy
Runaway to a world that we design

Kami ingin menjadi ibu yang tetap mampu mengelola urusan domestik sebaik mungkin, namun juga tetap punya cukup waktu untuk bergerak mendesain dunia yang kami impikan. 


Tiga hari kulalui di KIP 2019 dan tak henti-hentinya aku nggremeng pada diri sendiri, “Kok nggak ada yang nggak keren ya? Terus aku sudah melakukan apa sejauh ini?” Jemariku terus bermain di atas tuts keyboard laptop kesayangan, mencatat semua yang kudengar, kulihat dan kurasa. Ditugasi sebagai notulen pada event ini, lagi-lagi membuat syukurku semakin bertambah. 

Awalnya aku mau ngevlog saat KIP. Sudah ada beberapa skenario muncul di otak. Mewawancarai timnas, Ibu Septi, para narasumber dan beberapa peserta yang hadir. Beberapa pertanyaan pun telah kususun. Namun jangankan ambil video, untuk bisa menjepret foto saja aku tak sempat. Semua yang disampaikan narasumber begitu ndagiiing, sehingga aku tak rela kehilangan momen dan ketinggalan mencatat hal-hal penting tersebut. Pada akhirnya aku harus ikhlas menikmati foto-foto yang dikirimkan oleh teman-teman.

Tapi aku tak kecewa meski gagal ngevlog. Belasan sesi alhamdulillah bisa kuikuti dengan hampir maksimal. Ada beberapa yang mungkin miss karena harus mendampingi salah satu narasumber CFP dan mendapat panggilan dari Kids Corner menyangkut urusan Affan. Jadi, mau tahu apa saja oleh-oleh yang kubawa dari KIP 2019? 

Hari Pertama, Gayengnya Menabuh Genderang Pembuka

wajah-wajah para among tamu KIP 2019

Dyah Made Agustina, atau yang lebih dikenal dengan Inem Yogya, membuka event dengan tariannya yang ceria. Tidak hanya sendirian, beliau mengajak anak-anak didiknya. Bahkan semua peserta pun diajak menari. Ruangan acara memanas penuh semangat.

Indonesia Raya tiga stanza yang kami nyanyikan melahirkan haru. WR Soepratman begitu indah menggubah lagu kebangsaaan ini, sayang sekali selama ini kita hanya menyanyikannya satu stanza. Padahal liriknya berisi doa-doa indah untuk negeri tercinta. Di sini pula lagi-lagi aku mendapat pengalaman berharga karena didaulat menjadi dirigen Indonesia Raya. Baru dua kali ini menjadi dirigen. Pertama saat event seminar zaman kuliah, itu pun hanya satu stanza, dan kedua kalinya saat KIP. Deg-degan berkali lipat!

Sambutan dari mbak Utami Sadikin dan Ibu Septi Peni semakin membakar semangat. Rasanya sudah tak sabar mengisi ‘gelas-gelas kosong’ kami.

Dunia terus berubah. Maka ketika panitia KIP mengangkat tema Synergy for Change, maka semua yang hadir di sini telah siap untuk melakukan perubahan. Apapun perubahannya, meski kecil, meski baru rencana ataupun sudah dijalankan. 

Sesi 1 bersama Inem Yogya



Wajah yang diblok putih dengan cemong-cemong warna-warni menjadi kekhasan dari Inem Yogya. Sebuah dandanan yang tak asing. Mengingatkanku pada suatu masa saat masih aktif berteater belasan tahun lalu. Tapi Inem Yogya berdandan seperti itu memiliki niat yang sangat berbeda denganku dulu kala. Aku berdandan karena pementasan, menyalurkan ekspresi diri. Bagaimana dengan Inem?

Mbak Dyah Made Agustina, sosok di belakang Inem Yogya, mengungkapkan beliau sengaja memilih tampilan seperti itu agar banyak orang tertarik. Beliau memang ‘ngamen’ di jalanan. Namun jangan salah, ngamennya berkelas, pals! Hasil yang didapatnya saat jalan-jalan mengitari Yogya digunakan untuk membantu orang-orang yang membutuhkan.

Meninggalkan profesinya sebagai dosen untuk fokus mengasuh anak-anak sudah membuat seluruh peserta KIP berdecak kagum. Apalagi ketika beliau ungkapkan niat yang mendasarinya memilih jalan menjadi Inem Yogya. “Saya sudah merasa cukup dengan apa yang saya miliki, dan ingin bisa lebih bermanfaat buat banyak orang.”




30 menit bersama Inem Yogya yang sangat berbekas. Apalagi ketika beliau memberikan a very inspirative closing statement, 

“Jadilah diri sendiri, lakukan apa yang ingin dilakukan. Jangan pernah ragu untuk mencoba sesuatu yang baru, selama itu bermanfaat. Jika kita niatkan untuk sesuatu yang bermanfaat, Tuhan akan mempertemukan kita dengan orang-orang baik. Tidak perlu menjadi seperti Inem yang edan dan tidak waras, jadilah versi terbaik diri sendiri masing-masing.”

Sesi 2 bersama Sumitra Pasupathy



Wajah manis dari sesosok Ibu yang diterbangkan jauh-jauh dari Singapura ini menggambarkan keteduhan hatinya. Ramah, cerdas dan inspiratif. Tiga kata yang bisa kuberikan untuk seorang Sumitra Pasupathy, narasumber dari Ashoka Foundation.

Fyi, Ashoka adalah sebuah organisasi global yang membawahi para changemakers di seluruh dunia. Bu Septi, Bu Sumitra dan Ara Kusuma adalah beberapa di antaranya. Perempuan-perempuan hebat yang mampu membuat perubahan untuk sekitarnya, dimulai dari hal kecil yang bisa mereka lakukan. 

Di sesi kedua ini, bukan hanya bu Sumitra yang mampu membuatku berdecak kagum. Ada Lita dan Rere yang masih berusia belasan tahun, namun aksi nyatanya membuatku nyungsep karena malu. Saat seusia mereka, apa yang sudah kulakukan? La wong sekarang sudah kepala tiga saja rasa-rasanya aku belum melakukan apapun. Lita dengan passion melukisnya membangun Rumah Baca Lereng Merapi dan membuat film pendek berjudul “Aku Berani Bermimpi” untuk menyemangati teman-temannya agar selalu semangat menjalani mimpi-mimpi mereka.


Rere pun tak jauh berbeda. Dari keprihatinannya melihat anak-anak kecil di kampungnya dijejali HP oleh para orangtuanya, ia membuat taman baca di rumahnya dan menggalakan kegiatan seru untuk anak-anak. Menurut Rere, anak-anak harus bebas menikmati masa kecilnya, tidak selalu terpapar layar, agar bisa melejitkan potensinya secara maksimal.

Untuk berkembang di dunia ini, di mana perubahan adalah hal yang tetap, kita perlu menguasai keterampilan untuk merangkul perubahan dan menjadi perubahan itu sendiri - menjadi pembaharu. Kita memerlukan lingkungan yang mendukung dan menghargai anak-anak untuk mencapai mimpi-mimpi mereka.

Salah satu kalimat pamungkas yang diucapkan bu Sumitra melekat erat di ingatanku. And it's another homework for me!


Sesi 3 bersama Septi Peni Wulandani



Sesi bersama ibu ideologis tercinta menjadi salah satu sesi paling dinanti. Sosok keibuan yang wejangan-wejangannya selalu menghangatkan hati, sekaligus membakar bara semangat di dalam diri. 

Saat itu semua peserta diminta menyebutkan masalah-masalah yang mereka hadapi dalam hidup. Lalu dirumuskanlah ada beberapa masalah; konsistensi, manajemen waktu, manajemen emosi, keterbatasan fisik, istri pemimpin keluarga, dsb. Dipilih satu orang wakil untuk setiap masalah. 

Semua peserta lalu digiring untuk menuju 'perwakilan masalah' mereka. Di situ kami berdiskusi mencari solusi dari masalah-masalah yang kami hadapi.

Setelah sesi diskusi, ibu bertanya, "Apa rasanya bertemu dengan orang-orang yang memiliki masalah sama dengan kita? Kita merasa nggak sendiri kan? Kita merasa nggak aneh kan? Ternyata ada lo orang yang punya masalah sama dengan diri kita."

Jangan lihat terlalu jauh. Melihat terlalu jauh akan membuat diri kita tidak ada apa-apanya. Lihatlah lebih dekat ke dalam diri sendiri. Jangan terlalu sering mengaca pada orang lain, berkacalah pada diri sendiri. Sesungguhnya setiap perempuan memiliki pergerakannya masing-masing.

senengnya bisa foto sama ibu

Aku selalu terpesona dan terperangah dengan semua rekam jejak perjuangan ibu, namun kisahnya dalam membangun dan membesarkan Ibu Profesional menyadarkanku sebuah hal yang sangat penting. Ibu Septi tidak luar biasa, beliau sama seperti kita. Sama-sama perempuan, sama-sama seorang istri dan ibu. Bedanya beliau bersungguh-sungguh menjalankan perannya. Bagaimana denganku? Seberapa besar kesungguhanku menjalankan peranku?

Akhir kata, satu wejangan lagi dari ibu:

Lihat masalah di dalam diri sendiri, fokus untuk menyelesaikannya dan temukan solusi bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga orang lain dengan masalah yang sama.

Sebuah penutup yang sempurna untuk hari pertama. Penutup yang mampu menjadi bahan bakar semangat untuk menanti hari kedua. Hal-hal hebat apa lagi yang akan kutemui esok hari?



Hari Kedua, Hari Kemerdekaan ala Ibu Profesional

It was the longest day, the most inspirative day, and the most wonderful day! Bukan karena aku harus kembali berdiri di depan peserta untuk menyampaikan narasi kemerdekaan yang mengharu biru dan sekali lagi menjadi dirigen lagu Hari Merdeka. Namun karena hari kedua ini penuh dengan tokoh-tokoh inspiratif yang membuat daftar PR ku semakin panjang.

saat membacakan narasi kemerdekaan

Masa iya setelah ‘diceramahi’ 13 sesi, setelah pulang ke rumah aku nggak melakukan apapun. Apa kata dunia?

Di hari kedua ini, semua pemenang CFP mempresentasikan ide dan program-programnya. Selain para pemenang CFP, kami juga beruntung bisa belajar dari beberapa tokoh inspiratif asli Yogyakarta yang sudah melakukan perubahan-perubahan nyata untuk sekitarnya. Siapa saja mereka?


Sesi Bincang Bernas #1 - Hijrah Nol Sampah




Aku seperti dikuliti saat mendengar mbak Efi Femiliyah dari IP Jakarta menyampaikan kisahnya menjalani Hijrah Nol Sampah. Apa kabar aku yang masih sering lupa bawa tas kain saat belanja? Sudah beli sedotan stainless steel tapi masih sering ketinggalan di rumah? Apalah lagi memilah sampah jadi beberapa jenis. 

Memang tingkat awareness-ku soal lingkungan harus benar-benar dibenahi. Kok ya pas banget sesi pertama di hari kedua KIP soal ini. Memang luar biasa cara Allah menegur hambaNya untuk lebih sadar ya?



Benar-benar menjadi PR-ku untuk bisa mengelola sampah lebih baik lagi. Bantu doa ya teman-teman biar aku nggak malas ngurusin persampahan ini.


Sesi Bincang Bernas #2 - KLIK

Finally.. we’re here! Sebuah video presentasi pecha kucha berdurasi 7 menit dengan suara mbak Indah Laras sebagai background-nya ternyata mampu membuat beberapa orang bertanya tentang kampanye yang sudah setahunan ini kami jalankan.

Kenalan sama KLIK, Yuk

Senang rasanya bisa berbagi tentang apa yang sudah dijalankan IP Semarang dalam membantu membangun Indonesia yang lebih ramah anak. Salah satu yang ditanyakan adalah bagaimana cara kami menyampaikan istilah bullying kepada anak-anak. Saat itu aku sempat menjelaskan bahwa salah satu caranya adalah lewat lagu. Ini nih lagunya, nyanyikan dengan nada "Aku Mau Tamasya" ya pals.

Aku anak yang kuat, tak pernah menyakiti
Tanganku kugunakan, untuk berlaku baik
Tak pernah memukul, tak pernah mencubit
Aku anak yang kuat, tak pernah membully

Beberapa orang pun ada yang mendekati setelah aku dan Mbak Hessa turun panggung, dan menanyakan lebih lanjut tentang KLIK. Tentu saja kuberikan nomor mbak Indah yang membidani kelahiran program ini, agar lebih pas penjelasannya.

alhamdulillah ada yang foto, makasih mbak Ariyantika

Sekelumit awal perjalanan KLIK, baca juga: Kampanye Perdana Stop Bullying


Sesi Bincang Bernas #3 - Mata Aksara


Mata Aksara yang digawangi oleh Pak Nuradi beserta istrinya, Ibu Heni, memiliki makna indra mata untuk membaca aksara dan mata hati untuk membaca yang tersirat. Pasangan suami istri ini memiliki visi untuk mewujudkan masyarakat yang berdaya saing tinggi. 

Bagi mereka, literasi tidak hanya soal bisa baca tulis, tetapi harus sampai memahami dan bisa menciptakan karya dari proses membaca tersebut. Itulah mengapa Pak Nuradi dan Bu Heni memberi Mata Aksara tagline “Dari Buku Menjadi Karya” dan “Nyata, Nglakoni lan Migunani.”

Beruntung seusai event KIP sebelum pulang ke Semarang, aku diajak mbak Hessa untuk berkunjung ke markas Mata Aksara. Terdapat sentra-sentra di sana: sentra buku, sentra permainan, sentra panggung, sentra komputer, sentra lingkungan, sentra menulis, dan sentra kriya. Dan semua pelatihan di Mata Aksara tidak menarik biaya apapun. 

saat berkunjung ke markas Mata Aksara, pic by bu Zhakiya Joban

Pak Nuradi menyampaikan terkadang yang inisiatif mengumpulkan biaya dari para pesertanya, namun kalau dari pihak Mata Aksara sendiri tidak pernah meminta bayaran apapun. 

Membangun Taman Baca sebenarnya salah satu impianku. Namun sampai hari ini kadang aku masih egois. Takut kalau bukunya rusak atau hilang. Dan saat ngobrol dengan Bu Heni dan Pak Nuradi, aku tersentil. “Ya harus ikhlas. Harus siap dengan segala kemungkinan tersebut.”

Memang ya untuk bisa all out berbagi dan melayani, kita harus benar-benar membuang keakuan di hati dan jiwa. Satu lagi deh PR-ku!


Sesi Cahaya Saujana - Sedekah Jariyah




Aku lupa kapan tepatnya mengenal mbak Puspa. Entah di grup fasil matrikulasi batch #6, atau grup pembuatan buku Jejak Langkah Bunda Sayang… bener-bener lupa. Aku cari jejak-jejak obrolan kami juga ternyata sudah terhapus waktu. 

Yang pasti sebelum KIP, aku pernah sempat chit chat dengan beliau. Dari sana aku tahu kalau salah seorang teman yang kukenal lewat Pelatihan Coding Mum Semarang ternyata masih kerabat mbak Puspa. 

Di sesi ini, mbak Puspa menceritakan semangatnya untuk berbagi kepada sesama. Berbagi tidak perlu menunggu kondisi kita berlebih. Itu insight yang bisa kudapat dari kisah mbak Puspa. 

Menurut sosok inspiratif yang tinggal di Lampung ini, proyek sedekah jariyah adalah bagian dari terima kasih terhadap Ibu Profesional yang telah membuat mbak Puspa mengenal misi hidupnya. Dituangkan dalam OSIN Family Project. Beliau bersama keluarganya mengumpulkan zakat dan menyalurkannya kepada para UMKM yang membutuhkan. Disalurkan dalam bentuk pinjaman tanpa agunan. Jika sudah dikembalikan secara utuh, nantinya akan disalurkan kembali kepada UMKM lainnya. Itulah mengapa disebut dengan sedekah jariyah. Lingkaran sedekah yang tak kan terputus.

Tidak hanya dalam rangka memberdayakan UMKM, proyek ini juga terkait dengan konsep pendidikan anak-anaknya. Mbak Puspa ingin anak-anaknya tumbuh fitrahnya dalam berempati pada kondisi orang lain dan mampu menjadi solution maker bagi masalah sosial ke depannya.

“Jangan pernah menunda berbuat baik dan menjadi orang baik.”

Wejangan sang ibunda yang menjadi bahan bakar mbak Puspa untuk terus menebar manfaat. Dan aku kembali bertanya pada diri sendiri, apa kebaikan yang sudah kuterbarkan?


Sesi Cahaya Saujana -Pamella Supermarket

with bu Noor owner Pamella - tengah

Dari warung yang hanya menjual 100 item berkembang menjadi supermarket dengan 9 cabang dan lebih dari 80 ribu produk yang dijualnya. Dalam mengembangkan bisnisnya, bu Noor Liesnani dan almarhum suaminya sama sekali tidak mengambil pinjaman dari bank. Amazing, right?

Sosok ibu yang masih terlihat cantik di usianya yang berkepala enam itu tidak hanya berbagi tips sukses berbisnis. Namun beliau juga menyampaikan rahasia bagaimana cara seimbang antara karir di ranah publik dan domestik; patuh pada suami dan menjalankan syariat agama. Jleb banget! 

Selama berkisah tentang perjalanan beliau membesarkan Pamella Supermarket, Bu Noor memang tak bisa lepas dari wejangan-wejangan suaminya. Ternyata kepatuhannya terhadap suaminya adalah salah satu kunci bisnisnya melesat. PR, PR, PR! 

Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan.

Salah satu petuah dari sang suami yang menjadi cambuk bagi bu Noor di setiap masalah yang dihadapinya. Lagi-lagi aku seperti dijewer. Masih sering mudah patah semangat setiap dihadapkan pada sebuah masalah yang pelik. Seakan-akan tidak ada jalan keluar. Padahal Allah kan selalu memberikan masalah sepaket dengan jalan keluarnya ya?


Sesi Cahaya Saujana - Konseling Berperspektif Gender




Mbak Elsy Junilia, perwakilan dari IP Yogya yang membagikan impian dan harapannya agar Komunitas Ibu Profesional bisa menjadi sebuah agen yang bisa membantu para wanita Indonesia yang memiliki kesehatan mental. 

Nggak muluk-muluk, on point, tapi penting banget. Pengalamanku selama menjadi fasilitator matrikulasi dan Bunda Sayang secara tidak langsung membuatku bertemu dengan banyak masalah yang dihadapi oleh para member IP. Ada beberapa masalah yang memang memicu depresi dan kesehatan mental lainnya. Terkadang pun aku sampai speechless untuk meresponnya. Pada akhirnya aku cuma bisa menjadi pendengar yang baik bagi mereka. Dan harapan mbak Elsy ini rasa-rasanya sebuah hal yang harus banget diwujudkan. 

Sebagai komunitas perempuan terbesar, IP pasti bisa melebarkan sayapnya. Sebagai salah satu bagian dari empowering women, menjadi agen kesehatan mental perempuan adalah salah satu cara yang oks banget. Bismillah, semoga bisa!


Sesi Tangan Terampil #1 - Eco Enzyme

mbak Uswah saat sharing tentang eco enzyme

Mbak Uswatun Hasanah dari IP Surabaya adalah salah satu narasumber favoritku. Beliau sangat tawadhu, lembut, dan hobinya berbagi itu lo bikin geleng-geleng! Mbak Uswah itu bisa bikin Sirup Okuna yang terbuat dari olahan kulit nanas, namun beliau bagikan secara gratis, bukannya dijual. “Sekarang sudah dijual juga kok, cuma khusus yang buat dijual bukan saya yang bikin, tetangga saya ajarin cara bikinnya. Kalau ada yang mau beli, saya ambilkan dari buatan tetangga ini.”

Masya Allah…

Fyi, Eco Enzyme adalah tangan panjang dari zero waste dengan cara memanfaatkan sampah kulit buah. Untuk membuatnya pun nggak sulit kok, cuma dengan mencampurkan sampah kulit buah, gula merah dan air. Ditemukan pertama kali oleh praktisi pertanian dari Thailand. 

mbak Uswah and prosotan ladies IP Semarang

Alhamdulillah, mbak Uswah pada hari Selasa, 20 Agustus 2019 lalu sempat membagikan caranya membuat Eco Enzyme kepada teman-teman di IP Semarang. Jadi lebih lengkap soal Eco enzyme, silakan nanti dibaca di blog Ibu Profesional Semarang ya. 

Tidak ada yang sia-sia dari ciptaan Allah. Semua pasti memiliki manfaat.

Kalimat tersebut yang terus memacu mbak Uswah dalam berkarya mengelola sampah rumah tangga. Kalimat yang lagi-lagi menjewerku untuk lebih aware pada lingkungan.


Sesi Changemaker #1 - Jogokariyan



Tubuhnya yang tinggi besar sudah memberikan aura berbeda di ruangan Indrapasta, Hotel Sahid Yogyakarta siang itu. Beliau adalah Ustaz HM Jazir dari Jogokariyan. Siapa yang tak mengenal masjid fenomenal ini?

Bisa dibilang sesi dengan Ustaz Jazir adalah sesi dengan catatan notulensi terpanjang. Semua yang disampaikan oleh beliau rasa-rasanya nggak ada yang nggak penting, semuanya penting dan penting banget. Sembari mengetik notulensi, aku berkali-kali menghela nafas saking kagumnya. Masya Allah…

Apa yang teman-teman tahu soal Jogokariyan selain kasnya yang selalu dinolkan? Selain kotak amal yang selalu dinolkan, salah satu hal yang membuatku terkesan adalah:

"Merubah mindset dari “Takmir yang Tidak Bertanggungjawab” menjadi “Takmir yang Bertanggungjawab.” Mungkin banyak ya kita lihat di masjid-masjid selalu ada pengumuman “Jaga Barang Anda, Jika Hilang Takmir Tidak Bertanggungjawab.” Di Jogokariyan, pengumuman dirubah “Jika Ada Barang Anda yang Hilang, Sandal, Sepeda Motor, dsb, Silakan Laporkan kepada Takmir, Takmir akan Bertanggungjawab.”

Di Jogokariyan, Takmir bukanlah Petugas Masjid, tapi Pelayan Jamaah Masjid. Jadi harus all out melayani para jamaah. Masjid jangan hanya memikirkan bentuk bangunannya, tapi bagaimana bisa menjadi tumpuan/ solusi masalah-masalah lingkungannya.



Pada sesi bersama Ustaz Jazir, aku juga jadi tahu kalau Jogokariyan punya database warga dengan sangat amat komplit. Bukan sekedar mana yang beragama islam dan bukan. Tapi lebih detail lagi! Untuk warga islam pun mereka punya rincian datanya lagi; mana yang sudah sholat, mana yang sholat tapi belum jamaah di masjid, mana yang belum sholat, mana yang sudah rajin zakat, mana yang sudah berkurban setiap tahun, kurbannya sapi atau kambing. Sedetail itu! It is so amazing, isn't it?

Itu hanya bagian kecil kerennya Jogokariyan. Masih ada banyak hal yang membuatku terus menganga selama kurang lebih sejam mendengarkan cerita-cerita Ustaz Jazir, termasuk soal gerakan “mensholatkan orang hidup.” Ada yang tahu soal ini?

Aku merasa sangat beruntung sekali. Meski nggak sempat mengunjungi Jogokariyan saat di Yogya, namun senang bisa mendengar dan belajar langsung hal-hal yang dilakukan Jogokariyan hingga ada di posisinya saat ini. Dari pemaparan Ustaz Jazir, ada sebuah insight yang kudapat, jika dihubungkan dengan urusan berkomunitas;

"Kalau sudah nyemplung di sebuah komunitas, ya hayuk lah all out dalam berbagi dan melayani. Karena komunitas ini bukan hanya milikku, milikmu, miliknya, tapi milik bersama. Saatnya memberikan apa yang bisa diberikan, karena berkomunitas tidak sekedar menuntut untuk mendapatkan sesuatu."
the next changemakers, aamiin

Sesi Changemaker #2 - Kandidat Changemakers

Urusan berdecak kagum ternyata belum kelar gaess. Setelah dibikin terpesona dengan Ustaz Jazir dan hal-hal yang dilakukan oleh Jogokariyan, lagi-lagi aku dibuat menganga dengan nama-nama kandidat Changemakers yang sangat amat inspiratif.

Mbak Fitriani Sri Winarsih, Mbak Imas, Ika Pratidina, Hilda Lu’luin, Yuni Astuti dan Ressy Laila adalah enam nama yang dipilih dari 100 changemaker di seluruh Indonesia. Dari enam nama tersebut, akhirnya dipilih tiga terbaik; Mbak Ike Pratidina dengan proyeknya “Keluarga Pembaharu”, Mbak Hilda Lu’luin dengan proyeknya “Green Souvenir” dan Mbak Ressy Laila dengan proyeknya “Main Cater.”

para changemakers dari sisi samping panggung

Mereka membuktikan bahwa perempuan pun bisa berkarya dan menjejakkan sebuah perubahan. Yang semakin membuat kagum adalah perubahan-perubahan itu benar-benar dimulai dari hal kecil dan sangat dekat dengan kehidupan perempuan. Tidak perlu muluk-muluk, mulai dari hal paling disukai, dan segera beraksi; that’s the point!


Sesi Tangan Terampil #2 - Menu Belajar STTPA

mbak Restu beraksi

Sebuah sesi luar biasa bersama sosok perempuan cantik asal Yogya yang kini tinggal di Banten. Berawal dari hobinya bermain bersama Arsy, putri kecilnya. Mbak Restu sangat konsisten dalam menyusun menu belajar STTPA. 

Sesi bersama mbak Restu Anjarwati ini memperlihatkan betapa perubahan yang bisa dilakukan perempuan tidak perlu jauh-jauh, semua bisa dilakukan mulai dari rumah. Dengan bersungguh-sungguh menjalankan peran sebagai madrasah pertama anak-anak, kita bisa melejitkan potensi, tidak hanya potensi anak-anak, tapi juga potensi kita sebagai seorang individu dan ibu.

Tidak ada anak yang menolak diajak main orangtuanya.

Sekali lagi rasanya seperti ditusuk hingga ke ulu hati. Betapa masih saja aku sering menolak ajakan anak-anak bermain bersama, hanya karena pekerjaan yang belum selesai. Padahal anak-anak kan harusnya jadi fokus utama dan pertamaku?

Mbak Restu dan kedua ortu beserta Arsy, putrinya

Btw, aku adalah LO buat mbak Restu. Jadi aku beberapa kali chatting dengan beliau dan kepoin akun sosmednya biar lebih mengenal sosok yang aku dampingi ini. Sesaat sebelum melihat mbak Restu manggung, ada gerimis di hatiku. Bapak ibunya ikut melihat sang putri tercinta mempresentasikan pencapaiannya. Sekilas aku jadi teringat bagaimana bapak dan ibu menemaniku pentas teater pertama kali. Dan aku baru sadar betapa support orangtua sangat berarti buat anak-anaknya. Semakin gerimis ketika mbak Restu masih manggung, aku ngobrol dengan sang bapak, “Restu itu menantu saya.” Masya Allah… senangnya bisa sedekat itu dengan mertua.


Sesi Tangan Terampil #3- Ask to Solve



Dari mbak Restu kita beralih ke mbak Puri Fitriani. Sesi kali ini juga langsung mencubitku biar bangun dari mimpi panjang. Betapa memulai perubahan itu nggak harus berupa hal-hal besar. Apa yang disampaikan mbak Puri ini berdasarkan pada fakta betapa pentingnya berkomunikasi secara efektif dan produktif.

Untuk berkomunikasi dengan baik diperlukan kemampuan bertanya sekaligus kemampuan mendengar secara aktif. Semakin banyak bertanya sejatinya semakin banyak berpikir. Namun ternyata membuat pertanyaan jauh lebih sulit daripada menemukan jawaban. Dari hal inilah mbak Puri mulai melatih anak-anaknya untuk bertanya dengan tujuan memecahkan suatu masalah. Karena menjadi problem solver adalah ciri dari generasi pembaharu.


Sesi Perempuan Berdaya #1 - Pak Dodik

Senang rasanya bisa ketemu dan belajar langsung dengan Pak Dodik. Pernah belajar dengan beliau tapi hanya lewat kulwap, tentu saja berbeda ketika bisa langsung melihat sosoknya yang ramah dan seneng ndagel. Tapi dagelan Pak Dodik isinya ‘daging’ semua.



Perempuan berdaya adalah perempuan yang berani melakukan perubahan. Tidak usah muluk-muluk, mulai saja dari yang kita sukai, sehingga semua hal menjadi lebih sederhana. Mulai dengan menulis impian-impian kita, lalu pilih mana yang paling ingin kita capai, setelah itu bangun dan kerjakan. Karena mimpi tak akan pernah tercapai jika hanya dilakukan dengan tidur terus-menerus.

Dream it, do it, share it and grow it!

Sebuah mantra penyemangat yang dibagikan oleh Pak Dodik malam itu. Disempurnakan dengan sebuah wejangan “jangan berbagi sesuatu, jika belum melakukan” alias jangan jarkoni, isa ujar ora isa nglakoni.

Sesaat setelah sesi Pak Dodik usai, lamat-lamat suara musik mengalun dan suara indah mbak Ike Pratiwi mengeja lirik demi lirik.

I close my eyes and I can see
The world that's waiting up for me
That I call my own
Through the dark, through the door
Through where no one's been before
But it feels like home


Dari sinilah asal mula A Million Dreams tetiba berubah dari soundtrack The Greatest Showman menjadi soundtrack KIP 2019. Lagu yang nggak hanya membuat semua orang mengingat kembali mimpi-mimpi mereka dan bagaimana usaha memperjuangkan mimpi-mimpi tersebut, namun juga mampu membuat semua orang luruh dalam keharuan. Hari kedua ditutup dengan sangat sempurna. 

Hari Ketiga, Menuju Semesta Karya


Hanya tinggal satu sesi lagi yang akan digelar, namun semacam gong penutup yang merangkum semua perjalanan KIP selama tiga hari. Bersama sosok perempuan yang sangat inspiratif. Saat pertama kali melihat beliau, yang bisa kutangkap adalah ketegasannya. Tersirat dalam tutur bicara dan gestur tubuhnya. Siapakah beliau?


Sesi Perempuan Berdaya #2 - Ibu Tri Mumpuni



Ibu Tri Mumpuni menceritakan bagaimana masa kecilnya merupakan alasan mengapa kini beliau menjadi seorang socio worker. Dibesarkan dari seorang ibu yang juga seorang socio worker, bu Tri sudah biasa mengikuti ibunya berkegiatan sosial. 

“Hidup itu harus memberi, kalau punya uang ya berikan uangmu, kalau kamu punyanya tenaga, ya berikan tenagamu, kalau kamu punya pikiran ya berikan pikiranmu, kalau kamu punya kebahagiaan ya bagikan kebahagiaan pada orang lain.” 

Sebuah pesan yang sangat dalam disampaikan ibundanya saat itu. Pesan yang benar-benar beliau pegang dan menjadi value hidupnya hingga kini. Diceritakan pula oleh Ibu Tri bahwa berkeluarga itu harus selalu siap melakukan penyesuaian. Untuk itu diperlukan keteraturan dan keseimbangan. Sedangkan keteraturan dan keseimbangan itu hanya bisa dicapai dengan perencanaan dan komunikasi yang baik. Disempurnakan dengan kesungguhan hati (mindfulness).



Rasa-rasanya sejam masih kurang, namun durasi terus mengejar. Sesi bersama Ibu Tri mau tak mau harus ditutup. Sebuah closing statement yang disampaikan oleh beliau kutancapkan dengan kuat di jiwaku. 

Jangan hanya jadikan bahagia sebagai tujuan, namun jadikan bahagia dalam setiap proses hidup, sehingga ada nilai tambah dalam diri kita setiap harinya.

So, jangan lupa bahagia hari ini, pals! Inget yaaa.. BAHAGIA.. PR lagi kan? Mudah ditulis, menantang untuk dijalani, hehe.

kapanpun, di manapun, berbahagialah

Dari belasan sesi di KIP, sebuah benang merah yang bisa kuambil adalah;

A home team!

Pak Dodik dan Bu Septi, Bu Tri Mumpuni dan suami, bu Noor Liesnani Pamella dan suami, mbak Restu Anjarwati beserta keluarga, dan semua narasumber yang manggung di KIP menunjukkan bahwa melesatnya mereka dengan segala visi misi hidupnya karena mereka telah selesai dengan segala inner problem yang ada. Sehingga mereka mampu berkolaborasi secara maksimal dengan pasangan, anak-anak dan keluarga besarnya. Lalu tumbuh selaras bersama komunitas untuk membesarkan aksinya dalam masyarakat. 

Sebuah PR pamungkas untukku! Berdamai dengan diri sendiri dan segala inner problem, menguatkan visi misi keluarga dan membentuk home team. Perjalanan yang panjang. Namun tidak akan pernah selesai jika tak segera dimulai.

Ini hanya secuil yang bisa kubagikan untuk teman-teman. Secuil kok 5000 kata, apa kabar kalau dua cuil? Karena jika mau menuliskan semuanya secara detail, bisa jadi sekitar 18 postingan, wkwk. Berhubung semua notulensi resmi yang sudah kususun nantinya akan diunggah di official web Ibu Profesional, cuss saja disimak di sana yaa kalau mau tahu versi lengkapnya. 


Video Kenangan dari Mbak Alienda Sophia, brebes mili tiap lihat ini

Terima kasih untuk stay di postingan ini hingga akhir. Terima kasih untuk semua pihak yang membantu dan support me hingga bisa menghadiri KIP 2019. Terima kasih ProSoTan Ladies IP Semarang, teman-teman panitia, seluruh peserta dan narasumber KIP 2019… kalian luar biasa! Dan tentu saja terima kasih sedalam-dalamnya untuk my support system; suami tercinta yang sudah mengizinkan aku pergi ke Yogya, untuk Ifa yang ikhlas ditinggal bersama ayah, dan untuk Affan yang nggak rewel sepanjang acara. Semoga semua ilmu yang kudapat di KIP bisa kuterapkan untuk keluarga kita yang lebih baik ya, paksu and kids.

thank you Affan sudah nemenin Bunda dengan baik

Dengan selesainya artikel ini, maka tiba saatnya aku bangun dari euphoria KIP dan mulai mengerjakan PR-PR yang kudapatkan. Karena KIP terlalu berharga untuk sekedar dikenang, saatnya bergerak! Bersinergi dan berkolaborasi bersama untuk mewujudkan perubahan-perubahan yang kita impikan, menuju semesta karya untuk dunia yang lebih baik. Selamat bergerak, para perempuan pembaharu!

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.



You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar