Skip to main content
ASTRABRIGHT

follow us

Choose Your Categories

Caraku Menjaga NKRI; Build Indonesia Strong from Home!



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Bela negara nampaknya sedang menjadi topik yang sedang hangat-hangatnya dibicarakan. Beberapa kali event yang digelar oleh pemerintah pun terkait dengan tema ini. Bukan karena sekedar HUT Republik Indonesia yang baru saja berlalu. Namun sepertinya berhubungan juga dengan peristiwa-peristiwa meresehkan yang semakin sering muncul di negara ini. Semakin banyak berita hoax bertebaran, kasus-kasus bullying, kasus pornografi, radikalisme, aksi makar dan sebagainya.

Rasanya kepala semakin berdenyut-denyut jika membaca berita demi berita di negara ini. Lalu sebagai seorang ibu, apa yang bisa kulakukan dalam kaitannya dengan bela negara? 

Build Indonesia Strong from Home


Di tengah perasaan miris yang menghantui atas kejadian-kejadian di NKRI, Allah seakan mengirimkan jawaban kepadaku saat halaqoh wali santri Kuttab Al Fatih (KAF) yang merupakan tempat belajar putriku tercintaku pada hari Sabtu, 7 Agustus 2019 yang lalu.

Kajian pada Sabtu pagi tersebut menjadi pengingat untukku; bahwa untuk menjaga NKRI tidaklah perlu melakukan hal yang muluk-muluk. Cukup dengan melakukan hal paling sederhana yang bisa kulakukan sebagai seorang ibu; 

build Indonesia strong from home!

Mengambil dari tagline yang dipakai oleh Ayah Edy, membangun Indonesia kuat mulai dari rumah. Rumah adalah titik awal dari peradaban sebuah negara. Suatu hal yang mustahil jika kita ingin membangun negara yang kuat, sementara keluarga-keluarga yang ada di negara ini rapuh. Kenapa kini semakin banyak berita hoax, kasus bullying, pornografi dan hal-hal buruk lainnya? Ini adalah alarm, khususnya untuk orangtua, bahwasanya pendidikan di negara ini gagal!



Pendidikan dan orangtua apa hubungannya? Bukankah anak-anak Indonesia sekarang sebagian besar sudah disekolahkan? Bahkan banyak dari para orangtua dengan tingkat ekonomi atas memilihkan sekolah terbaik dan mahal. 

Justru inilah awal mula kesalahan. Banyak orangtua yang lupa bahwa pendidikan dan pengasuhan anak adalah tanggung jawab utama mereka. Menyekolahkan anak ke institusi pendidikan yang terbaik dan mahal sekalipun bukanlah cara tanggungjawab yang tepat. Pasrah bongkokan kepada pihak sekolah. “Pokoknya sudah kusekolahkan, aku nggak mau tahu bagaimana caranya, anak ini harus menjadi pintar dan jadi berguna.”

Maka kemudian kepintaran hanya diterjemahkan lewat angka-angka. Di satu sisi adab generasi bangsa mulai pudar, akhlak mereka pun merosot tajam. Dua hal inilah yang kemudian memicu jempol-jempol tak bertanggungjawab. Sosial media menjadi ajang sumpah serapah. Entah berapa banyak anak muda teracuni pornografi dan game online. Belum lagi kekerasan yang nampaknya telah menjadi kawan akrab bagi mereka. 

Rumah = Pilar Utama dalam Mendidik Anak


Kini saatnya stop menyalahkan sekolah dan lingkungan. Sebagai orangtua, kita harus mulai instropeksi diri. Selama apapun anak-anak menghabiskan waktu di sekolah tidak lebih lama dari waktu mereka bersama orangtuanya. Ketika anak-anak dilahirkan, orang-orang pertama yang ditemui dan dipercayai oleh mereka adalah orangtua. Maka perilaku, karakter dan habit anak dibentuk pertama kali di rumah. 

Di dalam agama yang kuanut, Islam, rumah adalah pilar utama dalam mendidik anak. Termaktub dalam Al Quran surat Ali Imran: 110;


Kuntum khaira ummatin ukhrijat lin-nāsi ta`murụna bil-ma'rụfi wa tan-hauna 'anil-mungkari wa tu`minụna billāh, walau āmana ahlul-kitābi lakāna khairal lahum, min-humul-mu`minụna wa akṡaruhumul-fāsiqụn. 
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.



Disampaikan oleh Ustaz Taufiq dalam halaqoh wali santri KAF, para orangtua yang dimudahkan belajar tentang pengasuhan anak, artinya mereka disiapkan untuk membangun peradaban yang lebih baik. Terkait dengan misi yang Allah titipkan kepada umat Islam sebagai khalifah untuk berbuat ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, serta untuk beriman kepada Allah. 

Menyeru orang lain untuk melakukan hal-hal baik dan mencegah hal-hal buruk tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Salah satunya mengkampanyekan pentingnya parenting di Indonesia masih menjadi tantangan berat, terutama kepada para orangtua-orangtua yang merasa tidak ada masalah dalam diri anaknya. Padahal kata bu Elly Risman;

bencana sesungguhnya adalah bencana yang tidak disadari kehadirannya.

Contohnya, orangtua zaman now dengan mudahnya memfasilitasi gadget kepada anaknya, tanpa diberikan pendampingan yang tepat. Tidak diberi batasan kapan boleh menggunakannya dan hal-hal apa saja yang harus diketahui terkait adab menggunakan gawai. Ketika anaknya kemudian kecanduan game online dan pornografi, mereka hanya bisa mengomel dan menyalahkan lingkungan. Lupa jika awal bencana dimulai sejak gadget itu diberikan ke tangan anak.

Sejak 2015, aku mulai memberanikan diri berbagi tentang parenting di lingkup-lingkup yang bisa terjamah tanganku. Entah itu di lingkup arisan RT, ataupun sharing lewat sosial media dan blog. Kesadaran mengenai pentingnya parenting dan hubungannya dengan kualitas generasi penerus bangsa membuatku tak ingin tinggal dalam. Meski pada akhirnya lebih banyak diacuhkan daripada didengar. 



Tak mengapa. Mereka yang berjalan dalam kebenaran ada kalanya harus berani hidup terasing. Di saat anak-anak lain difasilitasi gadget, anak-anakku hanya boleh memakai gadget di hari-hari tertentu. Itu pun hanya dipinjami, tidak dibelikan khusus. Ketika anak-anak lain bebas menonton TV, di rumah kami sudah sejak 3 tahun lalu tidak ada TV. Hiburan untuk anak-anak hanyalah perpustakaan mini dengan buku-buku yang masih terbatas jumlahnya. Ketika anak-anak lain bebas bermain tanpa batasan, di rumah kami ada jam di mana anak-anak dilarang bermain di luar rumah. 

Aneh, asing, kuno… mungkin tiga kata itu yang ditujukan kepada keluarga kami. Namun ini adalah jalan sunyi yang kami pilih untuk menjaga fitrah anak-anak yang telah terinstal sejak Allah menciptakan mereka.

Sebaik-baik manusia adalah mereka yang umurnya panjang dan bermanfaat. Sedangkan seburuk-buruk manusia adalah yang umurnya panjang dan catatan amalnya buruk.



Pembentukan karakter dan sosial anak tidak akan jalan tanpa adanya pendidikan dan ilmu. Dua hal ini adalah tanggung jawab orangtua. Sekolah sejatinya hanyalah partner. Ketika rumah-rumah di Indonesia sudah berhasil menjadi pilar-pilar pendidikan bagi anak-anak, maka sekolah dibubarkan pun tidak masalah. 

Dalam Islam, dikatakan bahwa pendidikan bisa sempurna jika meliputi pendidikan ruhiyah, pendidikan akal, pendidikan jiwa dan pendidikan jasmani. Keempat pendidikan tersebut tidak hanya akan membimbing dan menyiapkan anak-anak untuk kehidupan dunia, namun juga kehidupan akhirat.

Tentu saja pendidikan semacam ini tidak instan. Tahapannya sangat panjang, butuh waktu lama, penuh dengan kesulitan dan menuntut kerja estafet antar generasi. Nah, supaya lebih mudah, kita harus mendidik buah hati sejak usia dini. Sebab semakin muda usia seorang anak, fitrah mereka masih sangat terjaga. 

Orangtua yang Sukses Dunia Akhirat


Ustaz Taufiq pada kesempatan halaqoh itu juga menyampaikan bahwasanya jika kita ingin menjadi orang yang sukses dunia akhirat, maka kita harus:

1. Jaga lisan

Kenapa kini berita hoax banyak tersebar, fitnah di mana-mana? Karena lisan (dan jempol) tak lagi terjaga. Jika kita tak terlalu paham akan suatu hal, diam jauh lebih utama.



2. Lebarkan rumahmu

Rumah lebar di sini maksudnya bukan membeli rumah dengan luas berhektar-hektar. Frasa ini bermakna bahwa kita harus memperbaiki anggota keluarga agar memiliki sifat yang tenang (qonaah). Para anggota keluarga yang qonaah akan melahirkan kesenangan.

Rumah adalah kunci pembentukan karakter anak-anak. Munculnya karakter-karakter buruk pada seorang anak itu asalnya dari rumah. Maka jangan langsung menyalahkan lingkungan, cek dulu apakah karakter buruk anak ternyata merupakan hasil plagiasi anak-anak dari karakter buruk kita sebagai orangtua.

3. Tangisilah dosa-dosamu

Ketika Allah mendatangkan sebuah musibah, sejatinya IA sedang menegur kita. Alih-alih menyalahkan orang lain, sebaiknya kita instropeksi diri atas dosa-dosa yang mungkin telah kita lakukan. Karena dosa-dosa tersebut bisa jadi awal dari segala musibah dan bencana yang menghampiri kehidupan kita. 

Anak selain menjadi hadiah dan kebanggaan, juga bisa menjadi ujian bagi orangtuanya. Anak yang berperilaku buruk, atau istilahnya nakal, bisa jadi merupakan hasil dari dosa-dosa orangtuanya. Maka ketika kita merasa anak berperilaku buruk, hal pertama yang harus dilakukan adalah instropeksi dan meminta maaf pada Allah atas dosa-dosa kita yang telah lalu. Juga meminta maaf kepada anak-anak atas kurang sempurnanya kita dalam mengasuh mereka.

Jikalau anak-anak terpapar hal buruk dari lingkungan sekitar atau sekolahnya, maka rumah seharusnya bisa menjadi obat. Artinya, orangtua harus mampu menyiapkan obat tersebut. Orangtua harus siap mengobati anak-anak dengan lapang dada. Bukan sekedar berperan menjadi orangtua, namun juga berperan sebagai teman bicara yang nyaman. Sekolah dan orangtua tidak seharusnya saling berkolaborasi demi lahirnya generasi bangsa yang lebih beradab.

Disampaikan pula oleh Ustaz Taufiq bahwasanya jika kita ingin memperbaiki umat dan negara ini, baik lewat lisan ataupun tulisan, gunakan cara yang baik.

Membangun Fondasi Awal



Pendidikan adalah kunci perubahan sosial. Dengan pendidikan, karakter seseorang bahkan bisa dirombak hingga akarnya. Sebab pendidikan bersifat konstruktif. Pendidikan mampu merobohkan karakter usang, membersihkan lalu menanamkan nilai-nilai yang baru. Namun fungsi pendidikan ini bisa berjalan sebagaimana mestinya jika fondasi awal yang kita tanamkan sudah benar.

Fondasi yang kokoh dan fitrah yang tak ternodai akan membentuk karakter individu yang baik. Individu yang baik akan siap menjadi bagian dari masyarakat yang beradab. Siap menjadi changemaker dan membangun masyarakat yang jauh lebih baik. 

Fondasi awal dimulai dari pembentukan nilai moral dan sosial pada fase usia dini yang dilakukan di rumah. Apa yang kita tanamkan pada anak-anak di usia dini mereka kelak akan menjadi karakter anak seumur hidup. Di sinilah perlunya kolaborasi dan kerja sama antara ayah dan bunda.

Ayah, Bunda… Anak-anak Membutuhkanmu!



Pengasuhan seringkali hanya dibebankan kepada ibu. Padahal sejatinya urusan mengasuh anak adalah tanggungjawab ayah dan bunda. Analoginya, ayah adalah sang kepala sekolah dan ibu adalah gurunya. Ayah dan bunda memiliki porsi tanggungjawabnya masing-masing, maka harus saling bersinergi dan berkolaborasi. Kalau ayah bundanya jalan sendiri-sendiri, tak memiliki visi misi yang jelas, apa jadinya anak-anak?

Sebagai qowwam alias pemimpin dalam keluarga. Ayah sejatinya harus memiliki grand design tentang keluarga seperti apa yang ingin dibangun. Sedangkan ibu bertugas untuk menjalankan desain itu dalam keseharian. 

Bunda… perbanyaklah waktu di rumah.


Sudah fitrahnya bahwa ayah lebih banyak menghabiskan waktunya di luar rumah, karena tugas utamanya sebagai sang pencari nafkah di dalam keluarga. Maka setelah ayah mengamanahi bunda grand design keluarga, tugas bunda selanjutnya adalah membersamai anak-anak. Sebagai disebutkan dalam Quran Al Ahzab: 33;

Hendaklah kamu tetap di rumahmu.

Perintah Allah selalu mengandung pembelajaran. Seorang ibu diminta lebih lebih banyak di rumah karena seorang ibu memang telah didesain sebagai madrasatul ula bagi anak-anaknya. Allah menganugerahi kita, para perempuan, fitrah keibuan dan kelembutan cinta yang tidak dimiliki oleh laki-laki. Fitrah bawaan ini muncul dari hormon prolaktin yang diproduksi kelenjar pituitari saat hamil dan terus berlangsung sampai masa menyusui. 



That’s why bunda adalah orang pertama yang menjalin hubungan sosial dengan anak-anaknya. Dari sinilah kita harus memahami pentingnya fase menyusui dan kehadiran bunda bagi anak-anak pada fase usia dini. Peran dan kehebatan seorang ibu menjadi inti pendidikan setiap anak.

Bagaimana dengan ibu yang bekerja di ranah publik? 

Islam tidak melarang perempuan untuk beraktivitas di luar rumah, asalkan masih seiring sejalan dengan rambu-rambu syariat dan tidak melupakan peran utamanya di rumah. Itulah mengapa dalam Islam, nafkah wanita wajib ditanggung oleh para laki-laki; ayah, saudara laki-laki, suami dan anak laki-laki. Nafkah ini kelak akan dipertanggungjawabkan oleh para laki-laki di hadapan Allah. Tujuan dari perintah Allah terkait pemberian nafkah ini agar bunda dapat lebih fokus dalam menjalankan tugas fitrahnya di rumah.



Ayah… anak-anak membutuhkan kehadiran dan kehangatan kalian


Meski tugas utama laki-laki adalah mencari nafkah, jangan lupakan pula bahwa sebagai qowwam, laki-laki juga memiliki tugas untuk mendidik istri dan anaknya.

Peran Ayah saat Anak Berusia 0-2 Tahun

Ayah harus selalu mampu mendukung ibu di setiap hal, bahkan hal-hal yang terlihat sepele. Misal, mencarikan ibu susu ketika ASI sang ibu kering. Ternyata mencari ibu susu adalah tugas para ayah. Karena setelah melahirkan, ibu butuh waktu untuk memulihkan kondisi. Janganlah dipaksa berpikir tentang hal-hal yang menguras batin dan jiwanya. Ketika mencari ibu susu, ayah harus tahu asal usul/ kejelasan keluarganya. Salah satunya adalah suami dari sang ibu susu ini haruslah memiliki pekerjaan yang halal. Nantinya hal ini terkait dengan pembentukan karakter anak.

Selain mencarikan ibu susu, tugas ayah lainnya ketika sang istri baru saja melahirkan adalah mengatasi rasa cemburu pada anak yang lebih besar. Jangan lepas tangan ketika anak-anak meraung rewel, sementara ibunya masih belum pulih 100 %. 



Peran Ayah saat Anak Berusia 2 - 4 Tahun

Dalam fase ini, para ayah harus lebih sering bermain dengan buah hati. Dicontohkan oleh Rasulullah SAW bagaimana beliau senang bermain dan bercanda dengan cucu-cucunya. 

Mengajarkan anak anteng saat di masjid juga dibentuk oleh sang ayah. Jika sejak 2 tahun, anak laki-laki sudah dibiasakan ikut shalat di masjid dengan digendong oleh ayahnya, anak-anak akan paham bahwa adab di masjid adalah tidak boleh ramai dan menganggu peribadatan.

Peran Ayah saat Anak Berusia 4 Tahun

Saat anak mulai senang-senangnya eksplorasi, ayah harus sering mengajak anak beraktivitas di luar rumah. Hal ini untuk menumbuhkan jiwa sosial anak. Anak-anak akan meneladani nilai-nilai yang diperlihatkan oleh ayahnya saat berinteraksi.

Broken Home Family, Apakah Keluarga Kita Salah Satunya?


Selama ini kita pikir bahwa broken home selalu terkait dengan perceraian. Padahal sejatinya broken home family bisa tercipta ketika di dalam sebuah keluarga tidak ada lagi komunikasi, dan ketika anak tidak mendapatkan pendidikan dari kedua orangtuanya secara bersamaan. Broken home kids bisa jadi terlahir dari keluarga-keluarga yang nampak utuh di luar, namun rapuh di dalam. Ketika para orangtuanya terlalu sibuk bekerja dan melupakan fitrah keayahbundaan mereka. Hasilnya? Sebagaimana yang terlihat di negara ini sekarang. Kemerosotan moral besar-besaran!



Beberapa karakter yang muncul dari anak-anak broken home:

1. Cemburu terhadap anak lain yang lebih bahagia dengan kedua orangtuanya. Rasa cemburu ini bisa menjadi dengki.
2. Memiliki sifat tertutup. Terutama bagi mereka yang dibesarkan oleh ayah atau ibu tiri, atau orangtua asuh pengganti orangtua kandung.
3. Tidak memiliki pegangan. Kasus ini biasa terjadi pada anak-anak yang orangtuanya bercerai. Bahkan bisa jadi menyebabkan anak-anak yang durhaka nantinya.

22 Kewajiban Orangtua terhadap Anak


Halaqoh wali santri KAF yang berlangsung di Bukit Amasya, pada 7 September lalu, ditutup dengan disampaikannya 22 kewajiban orangtua terhadap anak oleh Ustaz Taufik. 

Kewajiban orangtua kepada anak-anaknya telah ada sebelum para anak lahir, bahkan sebelum ayah dan bunda menikah. Kewajiban tersebut harus ditunaikan seumur hidup. Inilah kewajiban-kewajiban tersebut:



1. Berusaha untuk mencari pasangan yang saleh dan salehah.
2. Tinggal di lingkungan yang islami, dekat dengan masjid dan komunitas penghafal Al Quran. Lingkungan yang bisa menunjang pendidikan anak-anak kita kelak.
3. Mengikuti ajaran dan sunah Rasulullah ketika berhubungan suami istri, seperti membaca doa yang shahih dan meniatkan diri untuk mendapatkan keturunan yang saleh.
4. Mengikuti sunah Rasulullah dalam menyambut kelahiran bayi, seperti mengumandangkan azan, melaksanakan aqiqah, khitan dan sebagainya.
5. Senang dan bersyukur apapun jenis kelamin anak kita.
6. Merawat dan mengasuh anak kita secara langsung, terutama pada fase usia dini.



7. Memilih nama yang bermakna bagus untuk anak kita.
8. Mengajarkan Al quran, ilmu-ilmu agama dan keterampilan profesi untuk bekal hidup anak kita.
9. Memberikan ASI eksklusif.
10. Mengajarkan shalat. Mendidiknya untuk cinta shalat dan menghukumnya jika tidak shalat saat usianya 10 tahun, dan mengajak anak untuk shalat ke masjid.
11. Menafkahi anak dengan harta halal.
12. Mengajarkan puasa dan mendidiknya untuk suka berpuasa sejak 7 tahun sesuai dengan kondisi musim dan panjangnya waktu siang.



13. Mengajarkan anak perempuan untuk berhijab sejak berumur 6 tahun dan memerintahkannya untuk berhijab sejak umur 7 tahun.
14. Menjadi teladan yang baik bagi anak kita dalam hal apapun.
15. Mengenalkan anak kita dengan teman dan komunitas yang baik, misal mengikutsertakan kegiatan-kegiatan remaja masjid.
16. Mengajarkan adab dan sopan santun.
17. Merencanakan dan mempersiapkan pendidikan akademis anak kita dengan baik.
18. Berbuat adil kepada setiap anak dengan tidak membandingkan dan membeda-bedakan.



19. Menanggung biaya hidup anak sampai ia dewasa dan mampu menanggung biaya hidupnya sendiri.
20. Mencarikan istri salehah bagi anak laki-laki dan mencarikan suami saleh bagi anak perempuan. Membiayai pernikahannya jika mampu.
21. Membimbing anak dalam membina keluarga, tapi tidak ikut campur dalam urusan pribadi mereka.
22. Tetap menjaga hubungan baik dengan anak setelah mereka menikah.

Dari 22 kewajiban tersebut, sudahkah dikerjakan semua, parents?



Di penghujung kajian, Ustaz Taufik menyampaikan bahwa materi yang beliau sampaikan saat itu diambil dari buku Rumahku Madrasah Pertamaku. Sebuah buku yang teronggok manis di salah satu sudut rak di rumahku. Barulah ketika sepulang dari kajian, kubuka-buka buku tersebut. Ternyata apa yang disampaikan oleh Ustaz Taufik saat kajian baru membahas bab pertama dalam buku ini! 

Masya Allah… dari sini aku semakin dikuatkan. Bahwasanya menjaga NKRI akan kumulai dari rumahku sendiri. Kumulai dari memperbaiki fitrah kebundaanku, mendiskusikan ulang dan menata visi misi keluarga bersama suami dan menjalankan kewajibanku sebagai orangtua dengan sebaik-baiknya. NKRI akan terjaga ketika orangtua-orangtua menyadari peran mereka seutuhnya. NKRI akan terjaga ketika anak-anak sejak dini diasuh dengan baik dari tangan orangtuanya sendiri. 



Parents, jangan lelah mencintai Indonesia. Buktikan kecintaan tersebut dengan mengasuh generasi bangsa dengan usaha terbaik kita! Happy parenting!

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.



Referensi: 

Halaqoh Wali Santri Kuttab Al Fatih Semarang, disampaikan oleh Ustaz Taufiq, pada Sabtu, 7 September 2019



Syantut, Khalid Ahmad. 2018. Rumahku Madrasah Pertamaku - Panduan Keluarga Muslim dalam Mendidik Anak. Jakarta: Maskana Media.

https://tafsirweb.com/1242-surat-ali-imran-ayat-110.html




#BlogChallengeSeptember - Day 6
#OneDayOnePost
#ODOPBatch7

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar