Skip to main content
ASTRABRIGHT

follow us

Choose Your Categories

Dari KAF Menuju MAF atau Homeschooling?



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Jujur ada sedikit was-was di hati, ketika nanti Ifa lulus dari Kuttab Al Fatih (KAF), ke manakah ia sebaiknya melanjutkan pendidikannya? Homeschooling atau lanjut ke Madrasah Al Fatih (MAF)? Semua itu terkait dengan perkembangan fitrah si anak. Menurut Fitrah Based Education (FBE) yang sedang intens kupelajari, 12-14 tahun adalah usia krusial di mana sebaiknya anak tetap masih di rumah. 

Pada rentang usia tersebut, hormon dan perilaku sedang dalam perkembangan yang berbeda, rasa-rasanya tidak ada guru paling tepat selain kedua orangtuanya. Apalagi menurut teori perkembangan fitrah anak, di usia 12-14 tahun, anak perempuan sebaiknya didekatkan dengan ayahnya dan anak lelaki didekatkan dengan ibunya. Jika Ifa langsung kukirim ke MAF pada range usia tersebut, akankah aman untuk perkembangan fitrahnya?

Homeschooling menjadi salah satu alternatif. Setidaknya aku masih punya sekitar 4 tahun untuk mempersiapkan keilmuan dan wawasanku agar bisa menjadi fasilitator utama bagi Ifa. Saat ini sih kalau ditanya, anaknya minta homeschooling setelah lulus dari KAF, tapi namanya anak-anak masih berubah-ubah keinginannya. Siapa tahu nanti dengan berjalannya waktu, Ifa dengan kesadaran sendiri mau melanjutkan ke MAF. Sambil melihat kepastiannya, nggak ada salahnya kan sebagai ibu aku mempersiapkan diri sejak sekarang?

pic taken from web tawaf.id

Meski begitu jauh di lubuk hatiku, aku pun juga berharap Ifa bisa melanjutkan ke MAF. Menurutku, MAF merupakan sekolah lanjutan paling ideal setelah Ifa lulus dari KAF. Mau tahu kenapa MAF begitu istimewa buatku?

Mengenal MAF


Pada 29 Desember 2018 yang lalu, aku berkesempatan hadir pada sebuah halaqoh istimewa yang diadakan oleh KAF. Kenapa istimewa? Karena narasumbernya didatangkan langsung dari MAF. Maksud didatangkan Ustaz Elvin dan Ustaz Iwan ke KAF tak lain untuk memberikan gambaran seperti apakah pengajaran di MAF, terutama bagi para orangtua yang anak-anaknya lulus KAF sebentar lagi dan galau mau melanjutkan ke mana.

Disampaikan oleh Ustaz Iwan, MAF berbeda dengan pondok biasa. Berjenjang selama 7 tahun, di mana 3 tahun pertamanya fokus untuk mempelajari Al Quran dan diselingi ilmu-ilmu lain, seperti hadits, baru setelah itu ditambahkan ilmu-ilmu lainnya lagi; life skill, bela diri, panahan, dsb.

Ustaz Elvin menambahkan kembalinya peradaban harus dilakukan bersama-sama. Maka tidak boleh diliputi keraguan. Jika masih ragu, jangan daftarkan anak ke MAF, karena hasilnya tak akan maksimal. Duh, kok jleb ya.



Alur atau konsep pendidikan tidak hanya harus betul, namun juga disesuaikan dengan konteks lingkungan masyarakat. Misal, aslinya Kuttab di zaman nabi itu lulusannya sudah hafal 30 juz, namun di KAF melihat dan menyesuaikan kondisi Indonesia, hanya menargetkan lulusannya hafal 7 juz. Salah satu alasannya adalah susahnya mencari guru Al Quran yang sudah hafal 30 juz ditambah dengan visi misi yang sesuai dengan KAF.

Sekolah-sekolah yang ada saat ini belum ada yang berindikator akhirat, sebagian besar fokus pada materi. KAF dan MAF ingin menjadi pusat pendidikan yang berbeda, akhirat menjadi indikator utama. Tagline yang dipegang sudah seharusnya “akhirat dikejar, dunia jangan dilupakan” bukan “dunia dikejar, akhirat jangan dilupakan.” Hanya letak frasa yang berbeda saja bisa memberikan efek berbeda.

Kalau tagline pertama maka anak-anak sudah difokuskan kepada akhirat. Dengan mengejar akhirat, insya Allah dunia akan mengikuti. Sedangkan kalimat yang kedua, fokusnya tetap pada dunia, meski sebisa mungkin akhirat jangan dilupakan. Namun di sini tetap saja akhirat bukan menjadi prioritas utama.




Setelah terjadinya Perang Salib, konsep pendidikan mulai berubah menjadi “dunia dikejar, akhirat jangan dilupakan.” Kurikulum yang dipakai sebagian besar adalah kurikulum buatan barat. Kalau tidak percaya, silakan dicek. Di sekolah-sekolah negeri, kurikulumnya sama dengan sekolah-sekolah di luar negeri. Semua hanya berorientasi dunia. Pelajaran agama hanya 2 jam, kira-kira dengan waktu singkat tersebut apa yang anak-anak dapatkan?

Anak-anak belajar agama hanya dua jam di sekolah atau 2 SKS di kampus, di rumah pun tak mendapat asupan agama yang tepat, namun berharap anak-anaknya masuk surga? 

Ustaz Elvin lalu menceritakan sebuah catatan dari UNESCO, bahwa pada 859 Masehi ada sebuah kampus pertama di Maroko, Universitas Al-Qarawiyyin, yang tidak dipungut biaya dan berdiri di atas tanah wakaf. Di kampus tersebut tidak memisahkan antara agama dan ilmu-ilmu duniawi. Bahkan Ibnu Khaldun dan Paus II (Sylvester) dulunya berkuliah di kampus yang didirikan oleh seorang perempuan bernama Fatima Al-Fihria tersebut. 

Universitas Al Qarawiyyin, taken from dream.co.id

Di Jerman, pendidikan gratis sampai sekarang. Usut punya usut, ternyata Jerman belajar konsep pendidikan dari sejarah Islam kampus di Maroko tersebut. Kenapa kita yang orang Islam justru tidak tahu menahu, sudah belajar sampai manakah kita?

Oleh karenanya KAF dan MAF mencoba mengembalikan sejarah. Saat ini KAF dan MAF mengawali dengan adanya standardisasi guru dengan mendirikan Akademi Guru, sehingga kualitas guru-guru di KAF dan MAF di berbagai wilayah setara. Selain itu kepala KAF dipilih dari pusat.

Konsep pendidikan di MAF adalah meneruskan KAF. Santri KAF pasti diterima di MAF. Jika KAF fokusnya pada iman dan Quran, di MAF fokusnya pada dirosah dan Quran. Dirosah yaitu pelajaran umum, kelas 1 - 7. Tahun pertama santri MAF akan belajar bahasa Arab, tajwid dan 4 mata pelajaran umum. Tahun kedua, masih sama dengan tahun pertama, hanya mata pelajaran umumnya yang ditambah. Setiap tahun, mata pelajaran umum akan ditambah.




Sedangkan fokus pelajaran Al Quran di MAF meliputi lima tahapan;

  • Tahap 1: tajwid dan hafalan 7 juz (mengulang dan memperlancar hafalan di KAF)
  • Tahap 2: Level Hamasiyah - percepatan hafalan pada 23 juz yang tersisa.
  • Tahap 3: Penguatan hafalan (tahun 3 -4)
  • Tahap 4 - 5: Sanad & Qiroah (tahun 5-7)

Bisa jadi nantinya seorang santri sudah memasuki Al Quran pada tahap 4, namun dirosahnya masih kelas 1 atau sebaliknya. 

Beberapa kegiatan di MAF:

1. Sholat subuh berjamaah, dilanjut berdzikir dan hafalan Quran.
2. Sarapan, bersih-bersih
3. Dirosah hingga jam 12.00, lalu makan dan sholat dhuhur berjamaah.
4. Dirosah hingga ashar, lalu kegiatan bebas.
5. Kumpul di masjid saat maghrib untuk mengaji dan bahasa Arab.
6. Pada hari Sabtu, kegiatan olahraga. Olahraga wajib untuk ikhwan dan akhwat yaitu bela diri jujitsu.




Perbedaan kurikulum MAF untuk Ikhwan dan Akhwat; ikhwan wajib berenang hingga level rescue, sementara akhwat tidak. Semua santri dibekali ilmu parenting, ikhwan dididik menjadi qowwam, akhwat dibekali kurikulum keakhwatan agar siap menjadi istri dan ibu; memasak, menjahit, dan kepribadian muslimah.

Hafal quran di MAF hanyalah tangga awal. Santri memang minimal sudah hafal 30 juz saat lulus dari MAF, meski belum mutqin. Namun selain hafal al quran, MAF juga akan mengelompokkan santri sesuai potensinya. Apakah sosial atau ilmu pasti. Santri yang tertarik mendalami ilmu agama akan diarahkan melanjutkan studi ke LIPIA, sedangkan santri yang tertarik mendalami keilmuan selain agama akan diarahkan ke perguruan-perguruan tinggi lainnya sesuai denan potensi masing-masing.

Menarik juga ya kurikulum MAF, namun masih belum bisa memastikan. Semoga saja 3 tahun ke depan sudah punya jawaban yang pasti.

Wejangan untuk Orangtua




Pada halaqoh hari itu tidak hanya membicarakan tentang MAF. Ustaz Elvin dan ustaz Iwan tak lupa untuk menyisipkan beberapa wejangan untuk para wali santri.

Tujuan akhir setiap orangtua yang memiliki anak adalah bisa bersama-sama kumpul di surga. Untuk mencapainya dibutuhkan usaha. Puncak pimpinan tertinggi di keluarga adalah suami. Istri sebagai qonitat, tugasnya adalah taat, kecuali untuk hal-hal yang maksiat kepada Allah. Di balik setiap ketaatan pasti ada keberkahan. 

Suami harus sadar akan tanggungjawabnya, bahwa nanti di akhirat Allah akan bertanya sudah dididikkah istri dan anak-anaknya semasa di dunia? Di sinilah letak peran suami sebagai qowammah. Suami selayaknya raja yang harus memperhatikan semua urusan rakyatnya. Dari urusan nafkah hingga masakan matang yang masuk ke perut anak dan istri. 

Jika ada penghasilan istri yang masuk dalam rumah tangga, maka setara dengan sodaqoh. Satu hal yang harus dipahami oleh para suami; istri masak itu bukanlah kewajiban tapi sedekahnya istri. Maka suami jangan memaksa istri untuk memasak. Sedangkan para istri, sadarilah kalau setiap hari rajin memasak, sudah berapa banyak sedekah yang kita berikan?




Halal dan haram dalam pemberian nafkah menjaga diri dan keluarga kita dari api neraka. Penghasilan yang didapat dari usaha haram akan berpengaruh pada perilaku dan kemampuan bersyukur hingga kualitas ibadah. Bisa jadi susahnya kita mengarahkan anak karena ada keharaman dari nafkah yang kita berikan pada keluarga.

Fitrahnya manusia itu meniru, maka jadilah teladan yang baik bagi anak-anak, terutama para ayah. Jika ingin anak menghafal, maka ayah harus lebih dulu menghafal dan murojaah.

Semua orang memiliki pertempurannya masing-masing. Ada yang berjihad dengan pedangnya, ada pula yang berjihad dengan ilmunya. Apapun ladang jihad kita, semoga Allah meridhoi. Doakan aku biar nggak lama-lama galaunya mikirin sekolah Ifa dan Affan ya, apakah mau terus berpartner dengan sekolah atau homeschooling. Ada yang mau memberikan pendapat/ masukan?

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.



You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar