Skip to main content
ASTRABRIGHT

follow us

Choose Your Categories

Guru Kehidupan di Tengah Lebatnya Hujan



Hari belum terlalu sore, namun matahari sudah habis dilahap kelabu. Suara petir mulai terdengar satu per satu. Kilatan cahaya seperti sebuah pertanda untuk sesiapapun yang masih melaju di jalanan, agar segera pulang ke rumah masing-masing. Atau setidaknya menepi. 

Tak perlu menanti lama, hujan pun segera menyapa bumi dengan derasnya. Alirannya begitu kencang. Ditambah angin yang tak lagi sepoi-sepoi, seakan berlomba dengan suara air hujan yang turun ke tanah. Tak mau kalah, ingin menjadi yang terkeras. Hingga sempoyongan aku dibuatnya. Bahkan meski mantel telah kugunakan, air hujan tetap menyusup ke dalam. Badanku mulai bergetar. Kedinginan.

Jangan dikira meski hujan turun begitu lebatnya, jalanan di kota Lunpia ini menjadi lengang. Rinai hujan yang tak terbendung membuat saluran-saluran air meluap. Tanah kini sudah tak sekedar basah. Air yang meluap mencipta genangan demi genangan. Bahkan kini genangannya sudah hampir melebihi mata kaki. Lalu lintas tersendat, macet. Semua orang ingin bergegas menuju ke peristirahatannya masing-masing. Bunyi klakson sahut-menyahut di antara desau angin, sambaran petir dan gemuruh hujan. Tak ada yang mau mengalah. 

pic taken from pixabay

Jalanan benar-benar rapat. Kuda besiku hanya bisa maju selangkah demi selangkah. Kakiku mulai kebas karena terlalu lama terendam air. Tak terasa sudah hampir tiga puluh menit aku berkawan dengan hujan. Tubuhku sudah hampir kuyup. Mantelku mulai tak kuat menahan serangan hujan yang bertubi-tubi. Konsentrasiku mulai rusak. Perut mulai membunyikan alarm, tanda meminta untuk segera diisi. Sementara otak tak boleh kehilangan fokus memegang kendali atas motorku. Dengan tenaga yang tersisa, aku mencoba menerjang dingin. 

Kuyu. Pada akhirnya badanku tak lagi kuat menopang lelah. Kemacetan semakin mengular, susah sekali diterobos. Aku mulai merasakan seluruh anggota tubuh membeku. Jika kupaksakan diri meneruskan perjalanan ini, hiportemia bisa-bisa menerjangku. Bahaya. Dengan hati-hati, kunyalakan tanda bahwa aku akan menepi. Syukurlah tak sesulit yang kubayangkan. Segera kubelokkan kuda besiku ke sebuah restoran cepat saji di pinggir jalan terdekat. Aku harus mengisi perut. Otak dan tubuhku membutuhkan tenaga untuk melanjutkan separuh perjalanan.

Memasuki halaman restoran tersebut, aku disambut oleh bapak parkir yang sangat ramah. Senyuman tak pernah lepas dari bibirnya. Tangan kanannya aktif memberi petunjuk kepada pengunjung resto untuk mengikutinya. Sementara tangan kirinya memegang payung yang dilipat. Ia membantuku mencari lokasi kosong yang bisa menjadi tempat henti bagi motorku. Kulepas mantel yang sudah kalah bertarung dengan air hujan. Ujung bawah gamis hingga ke tengah hampir kuyup. Beberapa bagian kerudungku pun membentuk pola karena tetesan air hujan yang menembus helm. Sedikit kurapikan pakaianku lalu aku bergegas ke pintu masuk restoran.

Mbak, sini saya payungi. Hujannya deras.
pic taken from pixabay

Baru setengah langkah, kudengar bapak parkir yang kuperkirakan usianya di akhir 50-an memanggilku. Tanpa meminta persetujuanku, bapak parkir itu segera memayungi dan mengawalku hingga ke area pintu masuk restoran. 

Matur nuwun, Pak.

Ucapku menahan haru. Tak menyangka di zaman sekarang masih ada orang yang sangat tulus memperlakukan sesama. 

Mangga, dipun sekecaken.

Bapak parkir kembali melempar senyuman hangatnya. Beberapa uban terlihat menyembul di antara helaian rambut hitamnya yang tertutup separuh oleh mantel usangnya. Aku sangat takjub melihat pelayanan yang diberikan olehnya kepada setiap pengunjung resto ini. Sengaja aku mengambil tempat duduk di dekat jendela kaca yang memungkinkanku melihat aktivitas bapak parkir tersebut. Semua pengunjung dilayaninya dengan paripurna. 

Tak semua pengunjung merespon dengan baik. Kulihat beberapa pengunjung acuh pada pelayanan yang diberikan. Namun bapak parkir yang belum kutahu namanya ini terus bersemangat menjalankan misinya. Dengan atau tanpa imbalan terima kasih, beliau tetap memberikan usahanya yang terbaik sebagai penjaga parkir. Mendadak tubuhku terasa hangat. Entah karena perut sudah cukup terisi. Atau karena tersihir oleh semangat bapak parkir tersebut. 

Aku yang tadi sepanjang jalan merutuki turunnya hujan, kini merasa malu. Seorang bapak yang usianya jauh di atasku, mungkin seumuran bapak kandungku jika beliau masih hidup, menjalankan perannya sebaik mungkin. Meski berhujan-hujan.

Sejujurnya aku masih enggan beranjak dari bangku. Masih ingin mengamati semua gerak-gerik bapak parkir yang sangat menyentuh hatiku. Memang sejatinya pada siapa saja kita bisa belajar. Tak harus pada mereka yang statusnya terlihat lebih tinggi dari kita, lebih pintar dan lebih kaya. Pada mereka yang sering tak dilihat oleh ekor mata kita, ada banyak cerita yang bisa digali. Pada mereka yang seringkali kita cibir pekerjaannya, ada banyak hikmah kehidupan yang bisa terangkai. Sungguh jika tak ingat ada anak dan suami yang menanti dengan cemas, aku masih ingin menunggu hujan benar-benar reda, sambil menerjemahkan segala laku guru baruku itu.

pic taken from OTO Detik

Kubereskan meja yang tadi kupakai, lalu aku mulai melangkah keluar. Di area parkiran, bapak tersebut menangkap kedatanganku. Tanpa babibu, ia segera merapikan mantel yang tadi sengaja kutata di atas jok motorku. Dikeluarkan lap dari kantong celananya, lalu bergegas mengelap jok motorku dengan sigap hingga sisa-sisa air hujan tak lagi berbekas. 

Matur nuwun, Pak. Bapak sinten namine?

Pak Soleh, Mbak.

Lagi-lagi hanya terima kasih yang mampu kuucapkan pada bapak parkir yang pada akhirnya kutahu bernama Pak Soleh. Aah, pantas saja lakunya sesaleh nama yang ditasbihkan pada dirinya.



Aku bersiap-siap untuk kembali berkendara. Kupakai mantelku yang tak sebasah saat aku datang ke restoran ini. Tak lupa helm merah kesayangan pun kukenakan, lengkap dengan penguncinya. Demi keamanan diri yang paripurna. Saat aku akan memosisikan motor agar mudah kukendarai, lagi-lagi Pak Soleh turun tangan. Ia membantuku dari belakang, menarik motorku sehingga aku lebih mudah menempatkan motor pada posisi yang kuinginkan.

Mangga, Pak.

Kuserahkan selembar uang berwarna biru kepada Pak Soleh.

Kok gedi men mbak? Nggak ada kembaliannya ini.

Nggih sampun, kagem Bapak mawon

Pak Soleh menggelengkan kepalanya dengan kencang. Tanda tak setuju. Kemudian ia berlari mendekati satpam restoran tersebut. Nampaknya menukar uang agar bisa memberikan kembalian padaku. Aku mulai menggeber motor. Sengaja. Aku memang tak menginginkan kembalian tersebut. Aku merasa Pak Soleh pantas mendapatnya, dengan semua pelayanan terbaik yang ia berikan. Namun tiba-tiba Pak Soleh mencegatku.

Jangan pergi dulu, Mbak. Ini kembaliannya sudah ada. Kula mendhet hak kula kemawon, njih.

Ujar Pak Sholeh dengan sangat ramah, sembari mengulurkan beberapa lembar uang kepadaku. 


Mboten napa-napa, kagem Bapak kok. Motor kula sampun diparkir, dilapi, kula dipayungi…

Belum juga kutuntaskan kalimat apresiasiku padanya, Pak Soleh melontarkan kalimat yang membuatku semakin takzim pada sosok sederhana ini.

Sampun tugas kula, Mbak. Mangga, kula bantu keluar.

Aku pun tak kuasa menolak uang yang diarahkannya padaku. Kusimpan di kantong mantelku karena tasku sudah tertutup rapat. Aku siap melanjutkan perjalananku menuju anak-anak dan suami tercinta.

Hati-hati ya mbak. Jalanan macet dan banjir.

Ujar Pak Soleh sesaat sebelum aku meninggalkan restoran cepat saji tersebut. Lagi-lagi aku tersentuh. Banyak orang bekerja tanpa hati. Asal menjalankan kewajiban, tanpa totalitas di dalamnya. Hanya sekedar untuk mendapat gaji, tanpa ada keinginan untuk memberikan usaha dan berbagi manfaat terbaik. Namun Pak Soleh berbeda.

Pendapatannya sebagai tukang parkir mungkin tak seberapa, tapi ia menjalankan tugasnya dengan sepenuh hati. Meski hanya bekerja memarkir motor-motor pengunjung yang datang ke restoran, jika dilakukan penuh ketulusan dan totalitas, sungguh akan memberikan dampak yang berbeda. Kehangatan yang ia tunjukkan menular padaku, dan mungkin pada semua yang mampu merasakan kehangatan tersebut. Aku berjanji lain kali akan kembali ke tempat ini dan memberikan hadiah terbaik untuk guru kehidupanku tersebut.

***

Beberapa minggu kemudian...

Aku kembali lagi ke restoran di mana Pak Soleh bertugas. Kali ini tak sendiri, kuajak serta suami dan anak-anak. Aku ingin mengenalkan mereka kepada sesosok bapak yang luar biasa. Sebenarnya ini bukan kali pertama aku kembali. Kalau tak salah ingat, ini kali ketiga. Sayangnya setiap kali datang ke sini, aku tak bertemu dengan Pak Soleh. Dari Pak Satpam, aku mendapat info kalau Pak Soleh sudah berganti shift.

Maka hari ini aku kembali lagi, menyesuaikan dengan shift tugas Pak Soleh. Dari jauh aku sudah bisa mengenalinya. Sesosok bapak yang berperawakan sedang dengan gerakan yang sangat lincah. Karena hujan sedang tak turun, mantel yang digunakannya beberapa waktu lalu berganti dengan rompi berwarna oranye khas penjaga parkir. Kali ini ubannya semakin nampak jelas kulihat. Mungkin karena tak lagi tersembunyi di balik penutup kepala mantel.

Tak berbeda dengan kali terakhir kami bertemu. Pak Soleh siang ini juga membantu suamiku mendapatkan lokasi parkir yang nyaman. 

Pak Soleh, pripun kabare?

Aku menyapanya. Tak kusangka ia mengingatku.

Eh mbak yang waktu itu kehujanan ya? Alhamdulilah sae, mbak. Ooh sama suami dan anak-anak? Mangga, selamat menikmati.

Pak Soleh menyambut sapaanku dengan ramah. Aku melirik ke arah suami. Memberi tanda padanya bahwa inilah sosok yang beberapa waktu lalu kuceritakan. Suamiku tersenyum, tanda ia mengerti. 

pic taken from pixabay

Setelah semua pesanan habis kami santap. Suami memesan satu kotak bento untuk dibawa pulang. Anakku melirik bento yang dimasukkan ke dalam kantong plastik oleh mbak pramusaji, lalu berceloteh,

Waah, Ayah pesan buat dibawa pulang juga?

Suami tersenyum lalu berujar, 
Bukan buat kita, Kak.

Lalu buat siapa dong?

Anak perempuanku terus mencecar ayahnya dengan pertanyaan tambahan. Suami hanya tersenyum sambil bilang,

Rahasia…

Sontak sang anak pun manyun mendengar jawaban ayahnya. Kami bergegas menuju lokasi di mana motor terparkir dengan aman. Seperti sebelumnya, Pak Soleh membantu suami mengeluarkan motor. Senyuman tak pernah lepas dari bibirnya. Sambil sesekali menyapa kedua anakku dengan ramah.

Kuserahkan uang jasa parkir kepada Pak Soleh dan kantong plastik berisi bento yang tadi telah dibeli oleh suami.

Matur nuwun. Menika kagem Pak Soleh, buat dhahar siang.

Wajah Pak Soleh terlihat kaget. Aku yakin meski ia bekerja memarkir motor-motor pengunjung, ia belum pernah sekalipun merasakan sajian yang dijual di restoran ini. Berkali-kali Pak Soleh mengucapkan syukur alhamdulillah dan terima kasih, sambil menyalami tangan suamiku. Ia tak mengulurkan tangan padaku. Nampaknya ia tahu bahwa aku tak bersalaman dengan yang bukan mahram.

Setelah dirasa cukup beramah-tamahnya, suamiku segera menyalakan motor dan mulai melaju ke jalanan. Ada perasaan lega di dadaku. Sejak pertama kali bertemu Pak Soleh, aku merasa harus memberi sesuatu lebih dari jasa parkir yang telah dipatok. Sepulangnya mendapat pengalaman istimewa bersama Pak Soleh beberapa waktu lalu, aku memang mengutarakan kepada suami untuk kembali ke restoran dan membelikan sesuatu untuk Pak Soleh jika bertemu dengannya. 

Beberapa kali misi itu gagal dijalankan. Bersyukur hari ini akhirnya bisa bertemu Pak Soleh dan memberikan sedikit yang kami bisa. Setidaknya kali ini Pak Soleh tak menolak. Seperti aku yang tak menolak untuk menjadi murid kehidupannya. Terima kasih, Pak. Semoga kita bisa bertemu kembali lain kali.

***

*Cerpen ini terinspirasi dari beberapa pengalaman ketika bertemu bapak-bapak penjaga parkir yang sangat baik hati dan totalitas dalam menjalankan tugasnya.



#ODOPBatch7 - Day7
#TantanganPekan1
#BlogChallengeSeptember - Day11

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar