Skip to main content
ASTRABRIGHT

follow us

Choose Your Categories

Hidupmu Penuh Masalah? 3 Hal Ini Membantumu Menyelesaikannya!



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Pernahkah dalam kondisi merasa sangat marah, galau, masalah bertumpuk-tumpuk tapi tidak tahu bagaimana harus mengatasinya? Rasanya semua jalan keluar buntu. Tidak bisa maju, apalagi mundur. Kacau.

Jika pernah, berarti selamat.. kalian benar-benar manusia, wkwk. Ya iyalah, semua manusia di dunia pasti pernah mengalami yang namanya masalah, mau itu besar ataupun kecil. Jadi kalau teman-teman belum pernah mengalami sempitnya hidup dikarenakan suatu masalah, hanya ada dua alasan. Pertama, mungkin teman-teman bukan manusia, eh. Kedua, level spiritualitas teman-teman insya Allah sudah di atas rata-rata. Manusia yang sudah merasa tidak ada masalah di dalam hidupnya kemungkinan adalah mereka yang telah pandai bersyukur dengan segala ketetapanNya.

Pada bulan ramadhan lalu, seperti biasa ada Sekolah Ibu yang diadakan oleh Salimah Sendangmulyo. Materi pertama Sekolah Ibu 1440 H saat itu adalah tentang mengatasi masalah di dalam hidup, disampaikan oleh Ustaz Usep Badruzzaman yang terkenal dengan majelis dzikirnya.




Ustaz Usep membuka kajian pagi itu dengan menyebutkan beragam masalah yang sering ditemu oleh makhluk bernama manusia, seperti rezeki seret, anak nakal yang nggak bisa diatur, suami nggak betah di rumah, dan masih banyak lagi lainnya.

Bukan masalahnya yang harus dihilangkan, tapi sumber pengundang masalahnya! Masalah-masalah dalam hidup sebenarnya muncul karena dosa-dosa kita.

Duh, kok jleb banget yaks.

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kamu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar dari dosa-dosamu,” (QS. As Syura: 30)

Lalu Ustaz Usep mengajak kami membuka mata, hati dan telinga lebar-lebar. Mengapa rezeki kita bisa seret, padahal kerja dijalani dari pagi sampai malam, bahkan mungkin sampai nggak pernah ketemu anak istri? Bisa jadi karena kurang yakinnya kita pada Allah. Bahwa kita punya Allah yang Maha Kaya. Sehingga kita merasa apa yang kita dapat itu hanyalah karena usaha sendiri, bukan karena pemberian Allah. 




Orang-orang yang merasa semua pencapaiannya karena usahanya sendiri tanpa campur tangan Allah biasanya akan tumbuh menjadi orang-orang pelit. Akan muncul di dalam pikirannya, cari duit susahnya minta ampun, masa dikasihkan ke orang lain. Orang yang yakin pada Maha Kaya-nya Allah, tidak akan berpikir dua kali ketika ada kesempatan sedekah. Karena ia tahu bahwasanya rezeki itu telah diatur oleh Allah, bahwasanya di setiap rezeki yang dimiliki ada hak orang lain di dalamnya. Maka bersedekah akan terasa mudah. Orang yang rajin bersedekah, secara langsung atau tidak langsung, akan banyak yang mendoakan, sehingga hatinya terasa tenang. Rezekinya pun kian lapang.

Rezeki seret bisa juga dikarenakan ada pihak-pihak yang merasa didholimi. Seorang ayah meski memiliki tanggungjawab mencari nafkah, tugas utamanya adalah mendidik keluarganya. Oleh karena itu jangan sampai waktu untuk bekerja mengganggu kebersamaan dengan keluarga. Bisa jadi karena anak istri yang rindu akan kehadiran ayahnya inilah membuat rezeki semakin seret. 

Ternyata di balik masalah rezeki seret saja kalau mau dicari benang merahnya, banyak hal yang harus dibenahi dan dijadikan instropeksi diri ya, pals.




Lalu bagaimana jika ada yang bermasalah dengan anaknya? Merasa anaknya nakal dan selalu susah diatur. Sudah dinasehati berulangkali, dari yang nasehat baik-baik sampai dimarahi sampai babak belur tapi tidak mempan juga.

Jangan anaknya yang dimarahi, tapi koreksi diri kita apakah ada dosa yang belum ditobati?

Adakah nafkah yang diberikan untuk keluarga mengandung riba? Adakah selama ini kita sudah memenuhi kebutuhan anak? Kebutuhan anak bukan sekedar materi dan memberikan fasilitas-fasilitas mewah lo. Karena seorang anak lebih membutuhkan kelekatan hati, kedekatan emosi, kehadiran dan kasih sayang orangtuanya.

Inti dari semua pemaparan Ustaz Usep hari itu adalah, bahwasanya dosa-dosa yang belum kita tobati, baik itu dosa yang kita sadari ataupun tidak, adalah pengundang masalah hadir dalam kehidupan kita. Jadi bagaimana solusinya biar hidup tak lagi penuh masalah? Cekidot!

3 Langkah Menghilangkan Masalah di Dalam Hidup



1. Bertaubat


Karena dosa adalah sumber dari masalah-masalah dalam hidup, berarti biar masalahnya selesai, ya langkah pertama tentu saja menghilangkan dosa-dosa di dalam diri. Caranya? Tentu saja bertobat, pals.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda :

“Seluruh anak Adam berdosa, dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang bertaubat.” (HR Ibnu Maajah no 4241, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani) 

Setiap hari kita harus rajin-rajin bertobat, nggak cuma sekali doang seumur hidup. Lah setiap hari kan kita ketemu orang lain, berkegiatan, sadar atau tidak ada saja dosa yang kita lakukan. Makanya kita diminta untuk salat, karena salah satu fungsi shalat adalah menghapus dosa di antara waktu salat.

Misal nih, kita salat Subuh, maka kita sedang menghapus dosa-dosa yang terjadi di antara waktu isya menuju subuh. Saat kita salat dhuhur, maka sejatinya kita sedang berikhtiar untuk menghapus dosa yang kita lakukan di antara waktu subuh hingga dhuhur. Jadi bayangkan saja kalau kita selalu meninggalkan salat, sudah berapa banyak dosa yang kita tumpuk?




Dalam hadits qudsi, Allah berfirman,

“Wahai hamba-hambaKu, sesungguhnya kalian berdosa siang dan malam, dan Aku maha mengampuni dosa, maka mintalah ampunan kepadaKu niscaya Aku akan mengampuni kalian” (HR Muslim)

So, mulai sekarang banyak-banyak baca istighfar dan bertaubat yuk, pals..

Ada kisah yang disebutkan oleh AL-Qurthubi dalam tafsirnya pada tafsir surat Nuh, demikian juga An-Nasafi dan Fakhrurroozi dalam tafsir mereka. Semoga setelah membaca kisah ini, kita jadi lebih semangat untuk bertaubat dari segala dosa kecil dan besar.

Ibnu Shubayh berkata :
“Ada seorang lelaki mengeluhkan kepada Al-Hasan Al-Bashri tentang musim kering, maka Al-Hasan berkata kepadanya, “Beristighfarlah !”. Lalu ada lelaki yang lain mengeluhkan kepadanya tentang kemiskinannya. Maka Al-Hasan berkata, “Beristighfarlah !”. Lalu datang lelaki yang lain seraya berkata, “Doakanlah untukku agar Allah menganugerahkan bagiku anak”. Maka Al-Hasan berkata kepadanya, “Beristighfarlah !”. Lalu datang lelaki yang lain yang mengeluhkan akan kebunnya yang kering. Maka Al-Hasan berkata kepadanya. “Beristighfarlah !”.
Kamipun berkata kepadanya tentang jawabannya tersebut, maka Al-Hasan berkata, “Aku sama sekali tidak berpendapat dengan pendapat pribadi, sesungguhnya Allah berfirman dalam surat Nuh :
‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai” 



Sebaik-baik taubat jika di dalamnya ada rasa penyesalan, tidak ada lagi keinginan untuk berbuat dosa dan bertekad untuk tidak lagi mengulanginya. 

2. Puasa


Setelah bertaubat, ustaz Usep Badruzzaman juga menyampaikan kalau langkah kedua untuk menghilangkan segala masalah di dalam hidup adalah perbanyaklah puasa. Tentu saja puasanya nggak boleh asal ya, pals. Misal puasa mutih, atau puasa weton, puasalah sesuai yang diajarkan oleh syariat. 

Kalau yang wajib ya berarti puasa di bulan ramadhan, kalau yang sunah ya kita bisa memilih apakah mau puasa senin - kamis, atau puasa nabi Daud (sehari puasa, sehari tidak), dan juga melaksanakan puasa-puasa sunnah lainnya, seperti puasa arafah dan asyura.




Beberapa dalil mengenai keutamaan puasa:

Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang puasa Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (H.R. Al-Bukhari)

Dalam hadis dari sahabat Abu Qatadah dinyatakan, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wasallam pernah ditanya tentang puasa arafah dan puasa Asyuro, beliau menjawab,
“Puasa satu hari Arafah (9 Dzulhijjah), saya berharap kepada Allah, Dia akan menghapuskan dosa satu tahun sebelumnya dan satu tahun setelahnya. Dan puasa hari ‘Asyura’ (10 Muharram), saya berharap kepada Allah, Dia akan menghapuskan (dosa) satu tahun sebelumnya.” (HR. Muslim, no 1162).

Puasa yang kita lakukan juga harus disandarkan hanya untuk Allah semata, barulah bisa puasa tersebut berjalan sesuai fungsinya. Jika kita puasa dengan niatan untuk diet, untuk menghemat uang jajan, dan bukan karena Allah ta’ala, maka yang kita dapatkan nanti pun hanya sesuai dengan apa yang kita niatkan. 

3. Serius


Langkah paling akhir adalah jalani setiap kebaikan dengan serius. Karena kajian ini disampaikan saat bulan ramadhan, waktu itu kami ditantang 5 hal oleh Ustaz Usep Badruzzaman. Mau tahu tantangannya?




  • Selama 24 jam dalam 30 hari, dilarang mengeluh. Karena sesungguhnya mengeluh itu merusak nikmat.
  • Selama 24 jam dalam 30 hari, perbanyaklah bersyukur. Banyak-banyak mengucapkan alhamdulillah.
  • Selama 24 jam dalam 30 hari, fokuslah untuk melihat kebaikan orang lain. Misal biasanya kalau sehari-anak melihat anak membuat rumah berantakan, kita akan ngomel. Kali ini coba lihat dari sisi baiknya, “alhamdulillah anak-anak sehat, jadi tenaganya kuat dan aktif.
  • Selama 24 jam dalam 30 hari, doakan kebaikan-kebaikan orang lain. Setelah fokus untuk menemukan kebaikan orang lain di sekitar kita, sempurnakan dengan mendoakan kebaikan tersebut. Misal, “Anak-anakku sayang yang aktif dan cerdas, calon pemimpin bangsa ini, yang akan menjadi solusi bagi bangsa. Aamiin.”
  • Selama 24 jam dalam 30 hari, dilarang mbatin atau ngrasani (berpikir negatif ke orang lain). Disadari atau tidak kita biasanya mudah sekali melakukan hal ini, kalau ngrasani-nya baik sih nggak apa-apa, kalau ngrasani-nya negatif… nambah-nambahin dosa lo!

Jadi kira-kira kalau ditantang begini, sanggupkah melaksanakannya?




Antara bertaubat, berpuasa dan serius harus dilakukan seiring sejalan, tidak bisa berdiri sendiri. Misal, kita sudah rajin puasa namun maksiat jalan terus, ya nggak akan bisa. Atau aku sudah taubat kok, tapi nggak serius, taubatnya hanya di mulut saja, ya nggak akan bisa. Jadi pastikan tiga hal di atas dijalankan secara holistik, insya Allah hidup akan terasa lebih indah dan tenang. 

Semoga bermanfaat. Sejatinya aku pun menuliskan materi Sekolah Ibu 1440 Hijriah hari pertama di sini sebagai pengingat untukku sendiri. Semoga Allah selalu merahmati hidupmu, hidupku, hidup kita.. aamiin. Sampai jumpa di celoteh-celotehku berikutnya.

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.



Referensi:
  • Sekolah Ibu Hari Pertama,  7 Mei 2019 - Masjid Al Falah Klipang, bersama Ustaz Usep Badruzzaman
  • https://firanda.com/693-faedah-istigfar-dan-taubat.html
  • https://konsultasisyariah.com/29956-benarkah-puasa-arafah-bisa-menghapus-semua-dosa.html

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar